31815135

  • Judul: The Girl on Paper
  • Penulis: Guillaume Musso
  • Penerjemah: Yudith Listiandri
  • Penerbit: Penerbit Spring
  • Jumlah Halaman: 447 hal.
  • Rating: ★★★★☆

Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer’s block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.
Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?

– – –

Tom adalah penulis fenomenal. Novelnya yang berjudul La Compagnie des Anges meledak di seluruh dunia. Tidak sekedar bagus, beberapa orang bahkan mengaku hidupnya berubah setelah membaca novel itu. Hanya saja, kesuksesan novelnya tak sejalan dengan kisah cinta Tom Boyd. Kekasi yang sudah dianggapnya sebagai cinta sejati akhirnya memutuskan hubungan mereka. Tom pun hancur dan terjatuh hingga ke titik terendah hidupnya. Untuk melarikan diri dari penderitaannya, Tom pun larut dalam pengaruh obat-obatan.

Saat itulah muncul seorang gadis bernama Billie yang mengaku terjatuh dari novel Tom yang salah cetak. Dari sisi karakter dan penampilan fisik, gadis itu sangat mirip dengan karakter ciptaan Tom tersebut, sehingga mau tak mau Tom pun percaya kepadanya. Apalagi setelah gadis itu menawarkan sebuah pertukaran yang menggiurkan. Menulis kelanjutan trilogi dan Billy akan membantu Tom mendapatkan kembali kekasihnya.

Euphoria ‘tokoh fiksi yang menyeberang ke dunia nyata’ masih terasa gara-gara drama korea W. Oleh karena itu, ketika menemukan novel dengan tema yang sama, saya benar-benar antusias untuk membaca. Terima kasih kepada Penerbit Spring yang telah menghibahkan buku ini untuk saya review. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan XD.

Saat membuka halaman pertama, saya cukup bingung dengan gaya penulis dalam menuliskan ceritanya. Kisah Aurore dan Tom masing-masing ‘diperlihatkan’ dalam potongan-potongan berita. Mulai dari kontroversi pertama Aurore selaku pianis muda berbakat, meledaknya novel Tom, pertemuan Aurore dan Tom, hingga berakhirnya kisah mereka. Ini adalah cara yang kreatif untuk menyingkat plot, mengingat kisahnya akan terlalu panjang jika di narasikan satu persatu.

capture-20161007-100058Yang sedikit menggangguku adalah cerita ini menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama digunakan oleh Tom, dan sudut pandang ketiga untuk menceritakan tokoh lain. Yang saya tidak mengerti, kenapa Tom diberikan POV 1 padahal secara keseluruhan, buku ini akan lebh enak dibaca dengan POV 3. Selain itu, di beberapa kalimat penulis sering kali membubuhkan tanda seru bahkan pada kalimat santai. Hasilnya beberapa tokoh terasa sering berteriak saat mengobrol.

Namun yang membuat saya senang adalah alurnya yang melesat seperti roket. Meskipun tahan dengan alur yang paling lambat sekalipun, saya tetap lebih senang jika disuguhkan alur yang cepat. Belum di halaman ke seratus saja, tokoh imajiner Billie sudah muncul dan membeberkan jati dirinya. Yang mengganjal adalah, Tom bisa menerima dengan mudah alasan-alasan yang diutarakan oleh Billie. Saya pun mulai merasa curiga, jangan-jangan ada plot twist yang menunggu di akhir karena sepertinya fokus cerita bukan pada pengakuan Billie sebagai gadis yang terjatuh dari dalam buku.

Selama membaca saya menemukan banyak sekali kalimat-kalimat indah nan jleb yang sayang jika tidak dikutip.


“Lebih baik kita tidak tahu apa yang terjadi dalam pabrik mimpi” (hal. 39)

“…mungkin ada saatnya ketika seni tidak cukup lagi dan satu-satunya kesimpulan logis adalah kegilaan dan kematian” (109)

“Aku  sudah menyerah untuk menulis, dan menulis sudah menyerah terhadapku.” –Tom (hal. 169)

“Kesepian adalah hal terburuk di dunia. –Milo (hal. 241)

“Kebebasan kita dibangun atas apa yang tidak diketahui orang lain tentang diri kita.” (hal. 207)

“Buku-buku yang paling berguna adalah buku-buku yang para pembacanya mengarang setengahnya.” (hal. 290)

“Sebuah buku hanya akan hidup kalau dibaca.” (hal. 290)


Di akhir buku akhirnya, twist yang saya tunggu-tunggu pun muncul. Bukan jenis kejutan yang menyenangkan karena sejak awal saya sudah menaruh curiga dengan kejutan seperti apa yang akan muncul. Agak tertebak. Tapi membaca The Girl on paper sangat menyenangkan. Karakter Billie yang blak-blakan dan sarkastik adalah ‘cahaya’ ditengah suramnya karakter Tom. Hehehehe…

Advertisements