31831496

  • Judul: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children
  • Penulis: Ransom Riggs
  • Penerjemah: Tanti Lesmana
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 528 hal.
  • Rating: ★★★☆☆

Jacob Portman  yang berumur 16 tahun baru saja kehilangan kakek kesayanganya. Dulu kakeknya suka bercerita sambil menunjukkan koleksi foto anak-anak aneh, dan Jacob mengira kakeknya hanya membual. Setelah kakeknya meninggal tak wajar, Jacob mengikuti pesan terakhirnya dan pergi ke pulau terpencil di luar pantai Wales, untuk mencari rumah Miss Peregrine dan anak-anak aneh itu. Yang ditemukannya hanya reruntuhan, tetapi ketika Jacob menjelajahi sisa kamar-kamar dan lorong-lorongnya, semakin jelas bahwa anak-anak ini sungguh-sunguh ada dan, ajaibnya, mereka masih hidup sampai sekarang, walaupun tampaknya mustahil. Dan ada sebabnya mereka mengasingkan diri di pulau terpencil itu.

– – –

Jacob adalah anak seorang jutawan yang merasa bosan dengan kehidupannya. Ia berusaha untuk dipecat dari pekerjaannya saat ini karena tidak ingin meneruskan usaha keluarganya. Kehidupan Jacob menemui titik balik setelah kakeknya meninggal. Di hari nahas itu, ia melihat sesosok mahluk mengerikan telah membunuh kakeknya di hutan belakang rumah.

Namun, karena ceritanya yang sulit diterima akal sehat, Jacob dianggap mengalami depresi oleh orang tuanya. Ia dibawa berobat kepada seorang psikiater untuk memulihkan kondisi mentalnya. Hanya saja, mimpi-mimpi buruk tentang mahluk itu tidak kunjung hilang. Jacob pun tidak memiliki pilihan lain selain mencari tahu kebenarannya. Apakah yang dilihat dan dialaminya nyata, ataukah hanya halusinasi.

Saya membeli buku ini karena seorang kenalan pernah mengatakan bahwa seri Miss Peregrine adalah seri terbaik yang pernah ia baca. Dia pun menambahkan jika foto-foto yang melengkapi buku ini sangat menyeramkan. Saya pun bersemangat melakukan preorder ketika GPU mengumumkan tanggal terbit.

Tapi saat menerima buku ini, saya merasa kecewa. Tinta tulisan pada bagian spine belepotan hingga mengurangi keindahan buku. Mulanya saya mengira jika hanya buku saya yang bernasib seperti itu, namun setelah diberitahu teman bahwa bukunya juga seperti itu, dan melihat foto yang diposting @fiksigpu di instagram (yang juga bernasib sama), saya pun bertanya-tanya, apakah memang sengaja dibuat belepotan?

Yah… sudahlah. Lupakan soal spine, kita bahas soal isi cerita.

capture-20161007-094441Membaca buku ini awalnya membuat saya merinding. Betapa tidak, foto-foto hitam putih yang terselip di antara cerita terlihat benar-benar terlihat ganjil. Teknik pengambilan gambarnya dilakukan sedemikian rupa hingga memberi kesan aneh dan menakutkan. Belum lagi beberapa teknik rekayasa foto yang sebenarnya payah, tapi justru makin menambah keganjilan foto-foto itu. Namun, hal yang lebih mengejutkan dari keberadaan foto-foto itu adalah kenyataan bahwa foto-foto tersebut asli, bukan dibuat untuk kepentingan cerita. Foto-foto tersebut merupakan bagian dari koleksi foto antik Riggs.

Hanya saja, sayang sekali keseraman foto tidak diimbangi dengan seramnya cerita. Jika diawal buku saya dibuat merinding dengan gambaran suram mengenai kematian kakek Jacob, setelah Jacob memulai petualangannya justru intensitas keseraman cerita ini terus berkurang. Cerita yang awalnya terasa ganjil pun berubah menjadi kisah petualangan anak-anak yang memiliki kemampuan spesial ‘pada umumnya’. Terasa biasa saja. Saya pun mempertanyakan rate ‘dewasa’ yang tercantum di belakang buku ini.

Hal berikut yang cukup menyita perhatian saya adalah banyaknya reduplikasi. Terkadang dalam satu kalimat terdapat dua reduplikasi yang berdekatan. Hal ini tentu tentu membuat tidak nyaman saat membaca.

Lalu yang paling mengganggu adalah narasi cerita ini. Terkadang alur bisa sangat lambat, dan kemudian secara tiba-tiba adegan melompat begitu saja. Beberapa adegan dinarasikan secara gamblang tanpa ada deskripsi pendukung yang melibatkan indra lain selain mata. Mulanya saya mengira masalahnya ada di terjemahan, namun setelah membaca wawancara penulis di belakang buku, saya jadi paham penyebabnya. Riggs adalah penulis skenario film. Ia terbiasa membuat adegan untuk divisualisasikan, bukan untuk diimajinasikan. Oleh karena itu, ia lebih banyak medeskripsikan sesuatu yang bisa dilihat, dibanding menggunakan indra lain seperti perasa dan pendengaran. Hal ini pun berdampak pada emosi tokoh-tokohnya yang terasa datar. Adegan yang seharusnya tegang malah terasa biasa saja.

Tapi, di luar kekurangan yang sudah saya jabarkan di atas, buku ini tetap layak untuk dikoleksi. Pertama, karena filmnya akan segera tayang. Dan yang kedua karena keunikan foto-foto pendukung cerita. Dibanding menikmati petualangan Jacob melalui narasi, saya lebih menikmatinya melalui foto-foto. Saya berharap akan lebih banyak foto ganjil di buku kedua dan ketiga.

Advertisements