30343353

  • Judul: Cress (The Lunar Chronicles #3)
  • Penulis: Marissa Meyer
  • Penerjemah: Jia Effendi
  • Penerbit: Penerbit Spring
  • Jumlah Halaman: 575 hal.
  • Rating: ★★★★★

Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka, berencana untuk menggulingkan Levana dari tahtanya.

Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara disebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cres menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.

Sementara itu di bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.

– – –

Petualangan Cinder berlanjut hingga ke luar angkasa. Setelah berhasil menghubungi Cress melalui D-COMM, mereka pun sepakat untuk bertemu. Cress yang sejak kecil terkurung di dalam sebuah satelit akhirnya bisa berharap untuk setidaknya keluar dari sana.

Di tambah dengan kenyataan bahwa Thorne, pria yang sudah merebut hatinya, ada di dalam pesawat yang akan menjemput Cress. Kebahagiaannya pun melambung tinggi. Segala tindakan rahasianya untuk membantu Cinder dan kawan-kawannya nyaris saja berhasil, jika saja Sybil Mira sang ahli sihir tak mengetahui rencana Cress. Dan Cress pun dalam masalah besar.

Membaca seri ketiga TLC ini ada sedikit rasa enggan. Pertama karena kisah Scarlet nyaris membuatku bosan, dan kedua karena Cress lebih tebal dari Scarlet. Namun saya menepis prasangka itu mengingat Throne, tokoh favoritku, akan mengambil peran utama dalam cerita ini.

capture-20161007-095009Entah karena saya menyukai Thorne atau memang ceritanya yang semakin seru, baru beberapa halaman buku saya sudah terjebak dalam rencana Cress untuk melarikan diri. Begitu Cinder mampu mengontak Cress di satelit, cerita ini seketika menjadi seru.

Karakter Thorne yang konyol dan Cress yang sangat polos adalah daya pikat utama buku ini. Sebelumnya saya pernah memuji Marissa Meyer karena mampu menciptakan karakter yang orisinil, hal itu juga berhasil pada Cress dan Thorne. Saya sungguh menyukai kedua karakter ini. Thorne yang awalnya konyol dan tidak pernah serius, serta suka menggoda perempuan, di buku ini memiliki kesempatan untuk ‘membuktikan diri’. Karakternya tak hanya suka bermain-main, tapi sesekali bisa menjadi gentleman saat Cress membutuhkannya.

Kemudian ada Iko, android yang ‘berubah’ menjadi rampion. Celetukannya pantas disandingkan dengan kekonyolan Thorne.

Hanya saja, lagi-lagi saya ingin mengeluh soal pov penceritaan yang berganti-ganti. Saat kita sedang seru-serunya menikmati ketegangan petualangan Cress dan Thorne, lagi-lagi merasa antiklimaks karena bab berpindah ke pov Cinder atau Kai. Tidak jarang saya nyaris putus asa dan ingin melongkap bab itu untuk segera tahu kelanjutan kisah Thorne dan Cress. Bukan berarti saya tidak menganggap kisah tokoh lain tidak penting, hanya saja perpindahan seperti itu sangat mengganggu. Hal ini membuat saya tidak bisa menikmati cerita dengan maksimal.

Karena itu saaya sempat berpikiran untuk member rating empat bintang kepada Cress. Namun mengingat kekonyolan Thorne dan celoteh-celotehnya, saya pun berubah pikiran. Saya benar-benar sudah tidak sabar untuk membaca Winter. Di akhir buku ia mendapat sedikit slot cerita untuk menggambarkan mengenai dirinya. Kurasa Winter sedikit gila hehe…

Advertisements