31550183

  • Judul: The Invasion of the Tearling (The Queen of the Tearling #2)
  • Penulis: Erika Johansen
  • Penerjemah: Angelic Zai-Zai
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 592 hal.
  • Rating: ★★★★★

Ratu Merah dan Pasukan Mortmesne sudah di depan mata, ancaman invasi semakin nyata. Kelsea, Sang Ratu Tearling, harus memutar otak mencari cara agar rakyatnya tidak kembali dibantai seperti pada invasi sebelumnya. Penguasa Cadare, negara tetangga, hanya mau berkoalisi jika Kelsea bersedia menjadi salah satu dari sekian banyak istrinya. Dan sesosok iblis berbahaya yang muncul dari dalam api menawarkan bantuan jika Kelsea bersedia membebaskannya dari kutukan.

Ketika situasi semakin genting, kedua batu safir Kelsea malah menariknya mengembara jauh ke masa lalu. Kelsea memasuki kehidupan seorang wanita bernama Lily Mayhew yang menjadi korban kekerasan rumah tangga. Awalnya Kelsea tidak mengerti keterkaitan dirinya dan Lily, tapi sedikit demi sedikit misteri terkuak. Dan Kelsea sadar, mungkin solusi atas masalah di masa depan, bisa ditemukan di masa lalu. Namun apakah splusi yang diambil Kelsea akan membuatnya jadi orang genius, atau sinting?

– – –

Kelsea berjuang keras menemukan solusi untuk menghadapi gempuran pasukan Mortmesne yang hampir mustahil untuk dikalahkan. Di tengah usahanya, Kelsea menguasai beragam sihir yang bisa membawanya ke masa lalu, di kehidupan seorang perempuan bernama Lily Mayhew. Kelsea yakin, entah bagaimana Lily memiliki kunci dari masalah yang ia hadapi saat ini.

Selain Lily, muncul pula sosok hitam yang menawarkan bantuan dengan sebuah syarat yang harus dipenuhi Kelsea. Tapi Kelsea sudah diperingatkan agar tak memercayai mahluk itu karena dia seorang pembohong.

Di buku kedua ini, masalah yang dihadapi Kelsea bukan lagi soal pembuktian diri bahwa dia layak, melainkan ancaman perang, masalah dengan Pen, dan masalah dengan dirinya sendiri. Sifatnya yang keras kepala dan sulit bernegosiasi membuat kerajaannya harus berselisih dengan Gereja Arvath. Padahal, Kelsea membutuhkan Arvath untuk menampung para pengungsi dari desa-desa yang telah dievakuasi.

Belum lagi kekuatan barunya yang sepertinya begitu haus akan pembunuhan. Kelsea harus berjuang mengontrol kekuatan itu agar tak menguasainya dan merubah Kelsea menjadi sosok kejam.


“Amarah memengaruhi pertimbangan, menyebabkan diambilnya keputusan-keputusan buruk” (hal. 40)


“Rasa sakit hanya melumpuhkan orang lemah.” –Mace (hal. 98)


Selain karakter Kelsea yang semakin matang, Mace dan Pen pun mengalami perubahan. Mace yang di buku pertama sangat tegas dan disiplin, telah melunak. Ia bahkan belajar membaca agar tidak merepotkan Ratu. Sikap Mace terhadap Aisa (yang dipanggilnya dengan Kucing Pemarah) sangat manis, seperti ayah dan putrinya. Mace bahkan mengizinkan Aisa belajar bertarung.

capture-20160907-103508Pen, yang sangat kuharapkan memiliki hubungan special dengan Kelsea akhirnya terwujud. Dia yang sebelumnya hanya digambarkan sebagai pengawal setia yang jago berpedang, perlahan menunjukkan emosinya kepada Kelsea. Kisah mereka adalah bagian favoritku dalam buku ini.

Alur buku ini masih lambat, bahkan lebih lambat dari buku pertama. Penulis menyelipkan kisah Lily  di sela-sela cerita. Agak greget sebenarnya karena saat tegang-tegangnya, berulang kali kita dibuat melompat ke masa lalu untuk mengetahui hubungan Lily dan Kelsea. Berulang kali saya harus merasakan antiklimaks.

Hal lain yang menyiksa adalah, terlalu banyak tokoh yang harus diceritakan. Ingatan saya tehadap nama sangat payah, jadi berulang kali saya lupa nama-nama yang sudah disebutkan dan terpaksa membolak balik halaman buku untuk mencari tahu kembali. Secara pribadi saya tidak begitu suka dengan POV ganda seperti itu.

Hanya saja, POV ganda membuat kita tahu latar belakang dari setiap tokoh., termasuk Ratu Mort. Siapa sebelumnya Ratu Mort dan apa yang membuatnya bisa seperti sekarang telah terjawab tuntas di buku ini.


“Nama membuat sesuatu jadi nyata…” (hal. 401)


Meskipun alur bukunya maju mundur dan merambat kesana kemari, ceritanya tetap solid. Membaca buku ini seperti menonton serial TV dengan banyak episode. Ada begitu banyak kejadian sehingga membuat saya takjub sendiri dengan kemampuan penulis merangkai peristiwa.

Tapi, meskipun ceritanya menjadi semakin berat, buku ini tetap menyenangan. Cara penulis mengurutkan peristiwa dan membeberkan rahasia demi rahasia membuat pembaca penasaran hingga ke halaman terakhir. Tau-tau sudah tamat saja. Benar-benar page turner. Akhirnya, meskipun saya tidak merasa emosional membaca buku ini, cerita yang solid dan tokoh yang menarik membuatnya layak mendapatkan 5 bintang.

Advertisements