29265436

  • Judul: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)
  • Penulis: Marissa Meyer
  • Penerjemah: Dewi Sunarni
  • Penerbit: Penerbit Spring
  • Jumlah Halaman: 444 hal.
  • Rating: ★★★★☆

Nenek Scarlet Benoit menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencari sang nenek dan menganggap Michelle Benoit melarikan diri atau bunuh diri.
Marah dengan perlakuan kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang menghilangnya sang nenek.
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan neneknya sampai sang nenek harus menghilang?

Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan diseluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana

– – –

Scarlet adalah gadis berusia delapan belas tahun yang bekerja sebagai pengantar hasil pertanian neneknya ke sebuah rumah makan di Rieux, sebuah kota kecil di Prancis. Di tengah kegelisahannya akan nasib neneknya yang menghilang, Scarlet bertemu dengan Wolf. Berkat informasi yang dimiliki ayah Scarlet mengenai penculik neneknya, Scarlet kini mencurigai Wolf sebagai salah satu dari kawanan tersebut.

Namun Scarlet tidak bisa menolak saat Wolf menawarkan bantuan untuk mencari neneknya. Wolf tahu di mana neneknya di sekap dan siap menjadi pelindung Scarlet.

Sementara itu, Cinder telah menjadi buronan nomor satu. Ratu Levana sudah mengumumkan ultimatum agar Kaisar Kai segera menyerahkan Cinder, atau ia akan menyerang bumi dengan kekuatan penuh. Di bantu oleh Thorne dan Iko, Cinder pun mencari tempat aman untuk bersembunyi sementara.

Well… setelah menunggu cukup lama, akhirnya ada kesempatan untuk melanjutkan TLC. Setelah Cinderella yang menjadi cyborg, kini giliran gadis berkerudung merah dan persahabatannya dengan serigala. Awalnya agak susah untuk klik dengan cerita ini kembali karena saya membaca Cinder sekitar empat atau lima bulan yang lalu. Saya sudah lupa dengan detail ceritanya. Akhirnya saya membaca Scarlet dengan sedikit meraba-raba kisah sebelumnya. Bagaimana Cinder bisa menjadi tahanan dan apa kaitannya dengan Ratu Levana.

dsc_2714

Dari awal hingga tiga perempat buku isinya tentang pencarian dan pelarian. Sementara Cinder berulang kali harus melarikan diri hingga ke ruang angkasa, Scarlet bersama Wolf berusaha mencari neneknya. Agak membosankan sebenarnya, karena tidak banyak yang diceritakan selain siapa itu Michelle Benoit, siapa itu Wolf dan apa kaitannya dengan kawanan penculik itu.

Petarung jalanan yang dilabelkan pada Wolf membuat saya sedikit berekspektasi bahwa akan banyak pertarungan dalam cerita.

Tidak sebanyak yang saya harapkan. Hanya tiga atau empat kali, plus… aksi melompat dari kereta yang cukup mengesankan. Kecewa? Sedikit.

Karakter Scarlet agak menyebalkan karena seringnya dia marah-marah dan berteriak. Saya sampai lelah jika dia sudah mulai berdebat dengan Wolf. Sementara itu, Wolf, prince of charming­-nya buku ini gagal mencuri hati saya. Tetapi, tetap harus diakui bahwa karakternya orisinil dan belum ada di buku manapun. Sesuai namanya, Wolf, dia memiliki karakteristik seperti serigala. Hidup dalam kawanan dengan pemimpin yang disebut alfa. Punya penciuman yang tajam, senang bertarung, dan pemalu. Tapi mungkin karena saya sedang ‘lelah’ dengan karakter cool, saya malah terpikat kepada tokoh Thorne.

Thorne sendiri hanyalah figuran dalam cerita ini. Tak mengambil banyak peran penting selain meminjamkan pesawat curiannya kepada Cinder untuk melarikan diri. Tapi kehadiran Thorne memberi hiburan di tengah plot yang datar-datar saja. Dialog-dialognya lucu dan terkesan tidak penting. Sikapnya yang tidak tahu malu membuat saya gemas. Saya benar-benar tidak sabar membaca Cress karena di sanalah Thorne akan menjadi tokoh utama.

Selain itu, saya benar-benar tidak bisa menemukan kalimat yang quotable dalam buku ini. Entah di dalam dialog atau narasi penulis. Ini juga terjadi di buku pertama. Well… mungkin saya harus membacanya lebih teliti hehe…

Pada akhirnya, pertempuran para tokoh di akhir cerita menyelamatkan buku ini dari rating 3 bintang. Tensi cerita meningkat dengan pesat sehingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum menyelesaikan cerita. Sangat tidak sabar membaca Cress!

 

 

Advertisements