31137651

  • Judul: White Wedding
  • Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
  • Penerbit: Mizan
  • Jumlah Halaman: 244 hal.
  • Rating: ★★★☆☆

 

Ini kisah kecil tentang gadis mungil bernama Elphira. Dia terlahir albino. Drai ujung kepala hingga ujung kaki, semuanya putih. Kadang-kadang, Elphira menganggap dirinya hantu. Dia akan meringis ngeri setiap melihat pantulan dirinya dalam cermin. Kulitnya akan terbakar jika sinar matahari menyentuhnya. Pada akhirnya, Elphira punya satu keyakinan bulat: dia benci warna putih.

Kemudian, kisah kecil ini menjadi besar ketika Sierra, cowok berambut merah datang ke dalam hidup Elphira. Dia sabar bagaikan malaikat. Dia tersenyum ketika Elphira merajuk, dan teguh pada tekadnya untuk membuat Elphira menyukai warna putih. Bagi Sierra, putih adalah warna kebahagiaan, kesucian, dan keabadian.

Elphira senang atas kehadiran Sierra, sebenci apa pun dirinya pada prinsip Sierra tentang warna putih. Hingga, Elphira percaya. Mungkin dia harus menerima semua keyakinan konyol Sierra tentang warna putih. Namun haruskah kisah besar ini dihentikan jika Sierra memang benar-benar malaikat?

– – –

Elphira terlahir albino. Seluruh tubuhnya berwarna putih. Karena penampilannya yang berbeda itu, Elphira membenci dirinya dan warna putih. Hanya Papa dan Sierra lah yang menganggap ‘putih’ itu adalah hal yang baik. Sementara Elphira sibuk memikirkan hal-hal buruk yang berhubungan dengan warna putih, Sierra justru menyebutkan hal sebaliknya.

Namun bukan itu saja yang membuat Sierra berbeda. Kata-katanya, menurut Elphira selalu dipenuhi hal-hal ajaib yang seringkali tak bisa dipahami. Identitasnya pun mencurigakan. Sierra tak memiliki keluarga dan ia berambut merah.

capture-20160824-074017Elphira tahu ada yang berbeda dengan Sierra. Tapi selama Sierra membuat Elphira nyaman, ia tak begitu peduli siapa Sierra sebenanrnya.

Setelah Brownie Day, ini novel kedua dari seri ‘In the Name of Color’ yang aku baca. White Wedding mengangkat tema warna putih dengan menghadirkan gadis albino dan persahabatannya dengan malaikat berambut merah.

Sepanjang pengetahuan saya, tidak banyak novel lokal yang menggunakan penderita albino sebagai tokoh utama. Oleh karena itu, tidak banyak yang tahu jika mereka tersiksa dengan sengatan panas matahari melebihi orang dengan kulit normal. Ini tentu hal positif pertama dari novel ini.

Yang kedua, gaya penulisan Ziggy. Sebagai pecinta novel terjemahan, gaya menulis seperti ini tentu membuatku ‘keenakan’. Candaan khas barat dan sarkasme dialog-dialognya adalah hiburan tersendiri buat saya (saya pecinta sarkasme :P)


”Kalian, perempuan, perlu tambahan waktu untuk menyortir isi kepala, yang seringkali diisi banyak pikiran” –Sierra (hal.45)


Selanjutnya adalah karakter yang hidup. Elphira adalah gadis kecil yang lugu sekaligus kritis. Dialog-dialognya khas anak-anak. Ia senang bertanya, dan meskipun Sierra selalu memberinya jawaban yang ajaib, ia tidak pernah kapok bertanya.

Karakter lain yang tidak kalah unik adalah Sierra. Digambarkan sebagai remaja berumur 15 tahun (lupa-lupa ingat sebenanrnya, yang jelas ga dewasa) kata-katanya selalu jauh lebih dewasa dari usianya.


“Cuma karena kamu enggak bisa lihat, bukan berarti kamu enggak tahu dia ada, kan?” –Sierra (hal. 22)


“…Membenci orang itu berat Elphira. Kamu harus pura-pura enggak melihat dia ada di ruangan yang sama denganmu, harus pura-pura enggak mendengar apa yang dia katakan…” –Sierra (hal. 88)


Hanya saja, entah ini hal buruk atau engga, saking lugunya Elphira ia kadang memikirkan dan membahas hal tidak penting bersama Sierra. Berlembar-lembar halaman isinya cuma percakapan tidak penting padahal tadinya mereka hanya mau makan.

Tapi, berkat White Wedding ini saya jadi penasaran dengan buku-buku Ziggy yang lain. Saya percaya karyanya masih banyak yang lebih bagus dari ini. Aku menantikan kesempatan untuk membaca buku Ziggy yang lain.

 

 

 

Advertisements