28917141

  • Judul: The Queen of the Tearling (The Queen of the Tearling #1)
  • Penulis: Erika Johansen
  • Penerjemah: Angelic Zai-Zai
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 540 hal.
  • Rating: ★★★★☆

 

Ambil hati rakyatmu, atau relakan takhtamu.

Seumur hidupnya, Kelsea hidup terasing di sebuah pondok tengah hutan, dididik keras oleh orangtua angkatnya. Sebagai putri mahkota, kelsea diungsikan untuk menghindari ancaman Ratu Merah dan Kerajaan Mortmesne. Di usia 17, Kelsea harus mengambil alih takhta Kerajaan Tearling. Sebuah tugas yang tidak mudah, karena banyak pihak mengincar nyawanya.

Perjalanan menuju ibu kota saja sudah penuh marabahaya, Kelsea diserang, diculik, dan nyaris tewas. Dan ternyata menjadi Ratu tidak semudah teorinya, butuh lebih dari sekadar tekad dan nyali. Berhasilkah Kelsea membebaskan Tearling dari penjajahan Mortmesne? Apalagi rakyatnya sendiri pun masih meragukan ratu mereka yang masih hijau ini.

– – –

Kelsea adalah calon ratu. Saat masih bayi, ia terpaksa diasingkan oleh ibunya untuk menghindari usahan pembunuhan terhadap dirinya. Kini, saat usia menginjak sembilan belas tahun, Kelsea kembali ke kerajaannya untuk menduduki kembali tahta yang sudah menjadi haknya. Bersama para Pengawal Ratu yang tangguh, Kelsea menempuh perjalanan jau yang dipneuhi bahaya untuk kembali ke kerajaan Tearling.

Namun, menjadi ratu bukanlah hal yang mudah di Tearling. Pamannya, yang selama ini memimpin Tearling semenjak Ratu Elysa meninggal justru menggunakan kekuasaan untuk bersenang-senang. Kerajaan menjadi alat untuk penjualan budak besar-besaran kepada Kerajaan Mort, sebuah kerajaan sudah sejak lama ingin menguasai Tearling.

Kini Kelsea dan para Pengawal Ratu berjuang mati-matian untuk memperbaiki sistem pemerintahan yang bobrok, menyejahterakan kembali rakyat Tearling, sekaligus mempersiapkan diri terhadap ancaman invasi Kerajaan Mortmesne.

Sebelum membaca novel ini, saya sebenarnya merasa tidak begitu antusias. Selain karena label ‘Dewasa’ di belakang buku, juga karena bisikan teman yang mengatakan buku ini mengandung banyak adegan ‘nganu’. Ditambah lagi komentar di goodreads yang terpecah dua, antara yang suka banget, sama yang tidak suka banget. Tapi karena saya punya utang untuk mereview novel ini SESEGERA MUNGKIN, makanya hantam saja dan abaikan semua prasangka lol.

Buku ini seru loh!

Jika membaca QoT di awal-awal, mungkin kita akan mengira bahwa latar waktu dalam novel ini adalah zaman ‘sebelum masehi’, ketika listrik belum ditemukan dan transportasi utama adalah kuda. Itu keliru karena cerita ini hidup setelah era canggih komputer. Sesuatu terjadi sebelum ‘Masa Penyeberangan’ yang membuat semua teknologi musnah, dan orang-orang harus kembali hidup dengan cara tradisional, begitupun dengan sistem pemerintahannya.


 “Kelsea berharap mereka akan segera berhenti, tapi dia lebih memilih membeku di pelananya daripada mengeluh” (hal. 29)


Karakter Kelsea ditulis dengan sangat baik. Wajah yang biasa-biasa saja bahkan kalah cantik dari pelayannya dan tidak anggun. Kelsea lebih memilih belajar berpedang ketimbang bersolek. Demi bisa akrab dengan pengawalnya, ia sampai belajar menyumpahi orang. Karakternya memiliki banyak kekurangan, ia juga sering merasa takut dan lemah, tapi perlahan ia belajar dan menggunakan tanggung jawabnya sebagai sumber kekuatan untuk memimpin kerajaan yang sudah diambang kehancuran.


“Kelsea menyadari sesuatu yang lebih buruk daripada berwajah jelek: berwajah jelek dan mengira diri sendiri cantik” (hal. 413)


Tokoh lain yang yang tidak kalah pentingnya adalah Lazarus a.k.a Mace. Komandan dari Pengawal Ratu yang sangat disegani anak buah maupun musuh-musuhnya. Mahir menggunakan gadah dan sangat disiplin. Ia telah bersumpah setia terhadap ratu sehingga hidupnya ia serahkan sepenuhnya untuk melindungi ratu dari ancaman apapun.

capture-20160824-075355Satu lagi tokoh yang mencuri perhatianku adalah Pen. Pengawal pribadi ratu yang mahir berpedang. Jujur saja, dari hati yang paling dalam aku sangat berharap Pen nantinya bisa memiliki hubungan yang spesial dengan Kelsea. Ketimbang Fetch yang dalam cerita ini tampaknya telah membuat Kelsea jatuh cinta, aku lebih memilih Pen. Alasannya sederhana, diantara semua tokoh dalam The Queen of the Tearling, Pen lah yang paling normal. Hehe. Dia lucu dan lovable.

Membaca Qot rasanya sangat menyenangkan karena saya termasuk penggemar cerita tentang perebutan tahta atau semacamnya (ibu-ibu banget :D). Apalagi tokoh utama, Ratu Kelsea, selain punya kewajiban untuk memimpin kerajaan, juga harus bisa membuktikan diri kepada pengawalnya bahwa ia layak.

Alur cerita novel ini sangat lambat, karena penulis menceritakan secara detail setiap karakter yang terlibat dalam cerita. Dengan begitu, pembaca paham dengan motivasi setiap tokoh dalam saat mengambil keputusan. Secara keseluruhan, buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Memang agak berat karena menyangkut pemerintahan dan semacamnya, tapi karakter-karakter yang membangun cerita ini sangat menarik. Sesekali penulis juga menyelipkan lelucon sehingga membaca buku setebal lima ratusan halaman jadi tidak begitu berat. Dan oh iya, jika sebelumnya  aku menyinggung tentang adegan ‘nganu’, kalaupun di versi Inggrisnya memang banyak (entahlah, saya tidak baca), percayalah, Mizan melakukan penyuntingan dengan sangat baik. Buku ini bersih… lol.

Aku menantikan buku keduanya.

 

 

Advertisements