covRN-181

  • Judul: Brownie Days
  • Penulis: Yasmin Hanan
  • Penerbit: Pastel Books
  • Jumlah Halaman: 173 hal.
  • Rating: ★★★☆☆

 

Apa warna favoritmu? Warna favoritku cokelat.

Segala sesuatu yang berwarna cokelat.

Misalnya tanah, karena di sanalah kita berpijak.

Misalnya kayu, karena mereka kokoh dan kuat.

Misalnya secangkir cokelat panas, karena kental dan manisnya bisa menenangkanku. Coba bayangkan, ketika cowok idamanmu punya warna favorit yang sama denganmu.

Pasti setiapkali bertemu, kalian tak akan kehabisan ide untuk berbagi.

Cowok yang kusukai, ya, dia suka cokelat juga.

Kami sering duduk bersama di kedai kopi pinggir jalan. Aku menyesap cokelat panas, dia latte kental berwarna cokelat terang. Lalu dia sesekali akan mengisahkanku dari mana asalnya biji cokelat. atau mengapa aku harus menganakan gaun berwarna cokelat. semua tampak romantis dan setenang warna cokelat. sampai akhirnya aku teringat…

Aku tak bisa memiliki hubungan lebih bersamanya.

Mengapa? Karena kami berbeda. aku tak berasal dari planet yang sama dengannya. Dia manusia. Aku… alien.

– – –

 

Di sebuah tempat bernama Goldenrod di planet lain, hiduplah seorang gadis bernama Bisque. Gadis berusia lima belas tahun itu dikagumi karena matanya yang berwarna hijau terang serta rambutnya yang indah berwana cokelat dengan layer pirang.

Seperti remaja lain yang telah menginjak usia lima belas di Goldenrod, Bisque sudah mulai gelisah dengan Ujian Keremajaan yang telah menantinya. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan, ia akan meninggalkan planetnya untuk menjalani ujian itu atau gagal dan tinggal di asrama pendidikan remaja yang lebih mirip neraka.

Sifatnya yang kaku membuatnya cemas. Apalagi setelah kepergian ibunya ia tak pernah bisa paham dengan arti ‘rumah’, yang menjadi inti dari Ujian Keremajaan.

Lalu, apakah Bisque berhasil menjalani ujiannya di bumi? Bagaimana hubungannya dengan Chester, pria yang sudah merebut hatinya? Apakah Bisque akhirnya berhasil menemukan makna ‘rumah’ yang sesungguhnya?

Sewaktu membaca synopsis belakang buku dan menemukan kata ‘alien’, aku langsung bersemangat membaca buku ini. Di antara setumpuk daftar TBR juli, aku memilih buku ini sebagai pembuka. Kenapa? Karena aku suka hal-hal berbau alien, dan jarang-jarang ada novel lokal yang mengangkat tema ini.

Lalu hal kedua yang menarik perhatianku adalah nama tokoh utamnya. Bisque. Bagaimana cara membacanya? Biske atau Bisk? Sepanjang membaca novel aku melafalkan nama Bisque dengan Biske. Sejujurnya nama ini mengingatkanku pada salah satu tokoh manga Hunter X Hunter yang unyu-unyu tapi ternyata sudah berusia lima puluh tahun. Untung saja penulis mendeskripsikan fisik Bisque cukup sering sehingga kesan Bisque di HxH tidak pernah menginterupsi.

Penulis menggunakan latar tempat di luar bumi dengan sebuah wilayah yang bernama Goldenrod, dengan penduduk yang memiliki kemampuan khusus yang berbeda-beda. Si tokoh utama yang bernama Bisque sendiri menguasai tiga kemampuan yaitu abilitier, groundier dan momentier. Sayangnya, penulis tidak secara gamblang menjelaskan arti dari kemampuan-kemampuan ini sehingga beberapa kali akudibuat bertanya-tanya, ‘memangnya apa hebatnya kemampuan itu?’. Barulah setelah membaca lebih jauh dan menganalisis sendiri, aku akhirnya mengerti bahwa Abilitier adalah kemampuan untuk mempelajari sesuatu dengan cepat, Momentier adalah kemampuan memutar kembali kenangan dalam bentuk visual (jika aku tidak keliru hehe), dan Momentier adalah kemampuan untuk menghentikan waktu.

DSC_0380 (2)Catatan lain untuk novel ini adalah banyaknya typo. Di halaman 19 paragraf pertama baris ketiga pada kata ‘mengatkan’ yang seharusnya ‘mengatakan’. Halaman 73 paragraf ketiga pada kata ‘ada’ yang seharusnya ‘anda’. Dan di halaman 95 paragraf kedua pada kata ‘menngulurkan’ yang seharusnya ‘mengulurkan’. Typo ini cukup mengganggu sebenanrnya mengingat cerita yang pendek hingga letaknya serasa berdekatan.

Aku benar-benar menghargai ide tentang alien ini. Hanya saja, deskripsi tentang planet dan penduduknya terasa sangat minim. Justru yang dijelaskan secara berulang-ulang adalah gambaran fisik Bisque dengan mata hijaunya dan rambutnya yang cokelat, serta kefanatikan Bisque akan warna cokelat. hal yang lebih penting seperti alasan yang membuat Bisque tak mengerti makna ‘rumah’ malah tidak disebutkan. Apakah karena kepergian ibunya? Entahlah, padahal ayahnya masih ada dan bersiap sangat baik pada Bisque. Lagi-lagi pembaca hanya bisa menganalisis sendiri.


“Mereka memberikan kesan kesatuan yang memberikan efek candu. Seperti sebuah jeluarga yang menyatu, itulah warna cokelat dan biji cokelat bagiku.” –Bisque (hal. 108)


Untungnya, karakter Bisque cukup menyenangkan. Sebagai gadis berusia lima belas tahun, Bisque cuku dewasa dalam menghadapi masalah. Ia bukan sosok manja yang suka mengeluh apalagi marah-marah. Kecerdasannya membuat karakternya menarik. Bahkan Bisque sering melontarkan kalimat-kalimat bijak saat merespon lawan bicaranya.


“Selalu ada yang lebih dari diri seseorang dibandingkan apa yang terlihat oleh mata.” –Bisque (hal. 109)


Karakter lain yang tak kalah menyenangkan adalah Chester. Digambarkan sebagai pemuda bermata biru yang bekerja di sebuah kedai kopi. Sifatnya yang santai membantu melunakkan karakter kaku dan suram yang sering dibawa Bisque.

“Namaku Chester Wright dan aku jatuh cinta pada mahluk luar  angkasa” –Chester (hal. 168)

Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca. Setelah sebulan libur membaca fiksi, Brownie Days adalah pembuka yang manis. Aku jadi kepingin minum cokelat panas gara-gara sering disebut dalam cerita.

 

Advertisements