cover PRODIGY curve

  • Judul: Prodigy
  • Penulis: Marie Lu
  • Penerjemah: Lelita Primadani
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 465 hal.
  • Rating: ★★★★☆

Setelah berhasil meloloskan diri dari eksekusi publik, Day yang ditemani June lari ke Las Vegas. Mereka memerlukan bantuan kelompok Patriot untuk menyembuhkan luka tembak di kaki Day, menemukan Eden serta menyelundup ke Koloni. Sebagai balas budi, Day dan June harus membantu menyulut pemberontakan Rakyat Republik dan membunuh Elector yang baru, Anden. June bersedia melakukan apa pun demi Day, namun instingnya mengatakan bahwa Anden tidaklah sekejam Elector sebelumnya dan rencana pembunuhan ini adalh sesuatu yang salah. Selain itu, ada yang mencurigakan dalam diri Razor, pemimpin Kelompok Patriot. June berusaha membuat Day sepaham dengannya, tapi Day sudah terlanjur digelapkan amarah pada pemerintahan Republik.

Dalam dunia yang kacau balau ini, masing-masing pihak berpegang teguh pada apa yang mereka yakini. Pihak manakah yang pada akhirnya akan menang? Berhasilkan June meyakinkan Day untuk menyabotase rencana pembunuhan Elector? Dan setelah semua berakhir, dapatkah June dan Day tetap bersama?

– – –

Day dan June berada di antara kelompok Patriot. Setelah mengoperasi kaki Day yang tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit, Razor meminta imbalan yang sepadan. Membunuh Elector baru dan menyulut revolusi.

June yang notabene adalah seorang tentara pun ditugaskan untuk menjadi agen ganda dalam misi kali ini. Menyerahkan diri ke Republik, mendapat perhatian Elector kemudian mengarahkannya ke dalam perangkap maut yang sudah disiapkan oleh Patriot. Sang eksekutor tidak lain adalah Day. Membayangkan kondisi adiknya yang dijadikan objek percobaan virus, dendamnya pada pemerintah Republik tak terbendung lagi.

Hanya saja, June menemukan sesuatu dalam diri Elector yang membuatnya urung melanjutkan misi. Elector bahkan ingin mengajak June dan Day bekerja sama untuk merevolusi Republik. Sebagai gantinya, Eden, adik Day akan dibebaskan.

DSC_0290 (4)Ditengah kebingungannya, June harus segera mengambil keputusan, apakah akan berpihak pada Elector atau Patriot.

Sesuai judulnya, prodigy yang artinya ‘jenius’ (atau semacamnya :P) seri kedua Legend ini lebih banyak memfokuskan cerita pada kemampuan June dalam bernegosiasi. Julukannya sebagai Jenius Republik memang bukan sekedar julukan. Kemampuannya dalam mengontrol pikiran juga sangat baik. Tak hanya mampu mengelabui orang lain dengan kata-katanya, tapi detector kebohongan pun tak bisa mendeteksi kebohongannya. Alhasil, membuat orang lain percaya pada kata-katanya adalah hal yang mudah. Tak hanya kemampuan negosiasinya yang baik, June pun sangat jeli dalam menilai seseorang dari ekspresinya dan dari benda-benda disekitarnya. Ia bisa tahu sang Elector tak berniat jahat dari sorot matanya. Dan ia tahu jika Razor tak sepenuhnya jujur hanya dari menilai caranya berbicara. Intuisinya yang kuat telah berkali-kali memberinya petunjuk mengenai siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.


“…aku butuh Day untuk alasan-alasan sederhana –saat ini kami hanya punya sedikit peluang untuk bertahan hidup sendirian dan kepandaiannya melengkapi kepandaianku” –June (hal. 12)


Day yang kukagumi di buku pertama sedikit membuatku kesal di buku ini. Sifatnya yang ‘terlalu baik’ membuatnya mudah dimanfaatkan. Belum lagi ketidakmampuannya bersikap tegas pada Tess soal perasaannya terhadap June.

Ini juga terjadi pada Tess. Di buku pertama ia digambarkan sebagai gadis bermata bulat yang ceria dan lugu. Setelah ia beranjak dewasa dan mulai mengenal apa itu cinta, sikapnya jadi menyebalkan.

Tujuh puluh persen buku ini berpusat pada usaha pembunuhan Elector. Artinya, belum ada aksi yang membuat kita menahan napas seperti pada buku pertama. Sebagian besar merupakan usaha June untuk meyakinkan Elector bahwa ia berpihak padanya, usaha June member sinyal pada Day, perasaan Day, dan mimpi-mimpi. Yang terakhir ini yang paling menyebalkan. Tak jarang aku melongkap beberapa paragraf karena tak tertarik dengan mimpi yang sebenarnya tak membawa pengaruh pada alur cerita.

Karena buku kedua membuatku bosan, terpaksa aku menurunkan satu bintang dari rating sempurna di buku pertama.

 

 

 

 

 

Advertisements