17156575

  • Judul: Legend: Los Angeles 2130
  • Penulis: Marie Lu
  • Penerjemah: Lelita Primadani
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 382 hal.
  • Rating: ★★★★★

Tahun 2130.  Amerika Serikat telah terbagi menjadi dua wilayah: Republik di Barat dan Koloni di Timur. Keduanya menghadapi perang saudara yang tak ada habisnya. Seakan itu belum cukup, rakyat Republik di rumah-rumah kumuh harus menghadapi wabah penyakit dan konflik kesenjangan sosial.

Day, warga miskin Republik, mempunyai puluhan catatan kriminal dan tak punya rekaman sidik jari maupun potret diri. Selama lima tahun, pemuda itu menjadi buronan paling dicari, terlebih setelah dia dituduh membunuh Metias, salah seorang tentara militer Republik.

June, adik perempuan Metias dari ranah elite dan calon prajurit militer, bersumpah untuk memburu Day demi membalas dendam atas kematian kakaknya, sekaligus mengabdi pada Republik. Namun, keyataan berkata lain saat June dan Day saling jatuh cinta. Bagaimana hubungan keduanya berlanjut? Dan apakah yang akan dilakukan June untuk menghadapi intrik dengan Day serta negaranya?

– – –

Day, seorang kriminal paling dicari di Republik terpaksa harus kembali berurusan dengan tentara militer saat menerobos masuk ke sebuah rumah sakit demi mencuri vaksin wabah untuk adiknya. Dalam pelariannya, ia terpaksa harus merobohkan salah satu tentara elite yang ternyata adalah kakak June.

June sementara itu bertekad untuk  memburu Day demi membalaskan dendam kakaknya. Ia menyamar menjadi salah satu penduduk sector Lake demi mencari Day. Tanpa disangka, pertemuan mereka justru membuat mereka harus menjadi sekutu untuk sesaat. Dan yang lebih merepotkan lagi, pertemuan singkat itu nyatanya telah membuat keduanya saling jatuh cinta.

Hanya satu kata untuk novel ini, INTENS! Dan WOW! (oke… dua kata)

Jika melihat dari blurb sebenarnya kurang menarik. Sepertinya cerita akan berputar-putar di kisah cinta dan pembalasan dendam. ups! Aku salah…

Sejak membaca halaman awal novel ini aku sudah dibuat jatuh cinta dengan kemampuan Marie Lu meramu kata. Narasinya lincah dan menarik, serta alur yang padat tanpa satupun bagian yang tidak penting hanya untuk menambah panjangnya cerita.

Deskripsi karakter yang minim awalnya membuatku sedikit tidak nyaman. Day, hero dalam kisah ini memang digambarkan tak memiliki data apapun di pemerintahan Republik sehingga entah kenapa penulis juga tak memberikan deskripsi yang banyak mengenai Day. Ternyata itu ada maksudnya. Dengan membaca halaman demi halaman, kita diajak untuk mempelajari Day dan memahami dirinya melalui dialog-dialog. Seorang jenius yang ternyata juga memiliki sifat normal laki-laki yang suka pada gadis-gadis cantik.


“Saat ini yang kupikirkan hanyalah apa aku harus menyerah untuk mencari kesempatan menciumnya atau membelai rambutnya” –Day (hal. 146)


“Uang bisa memberimu kebahagiaan, dan aku tak peduli apa yang orang lain pikirkan. Uang akan membuatmu bisa memberi pertolongan, status, teman, keamanan… semua hal.” –Day (hal. 173)


Tidak banyak petunjuk mengenai Day. Umur bahkan nama aslinya baruterungkap di akhir-akhir buku. Dan berkat itu, ada banyak kejutan yang kita dapatkan.

DSC_0290 (4)Kemudian June si heroine, digambarkan sebagai gadis jenius dikampusnya. Mendapat nilai sempurna di ujian di usianya yang masih sangat muda. Setelah kakaknya meninggal, ia langsung diangkat menjadi tentara elite untuk memburu Day. Satu hal yang sangat menarik dari karakter June adalah, kebiasannya untuk menganalisis seseorang ketika melihatnya. Kemampuan inilah yang membawanya bertemu Day dan mengetahui siapa pembunuh kakaknya.

Novelnya sendiri kulahap hanya dalam satu malam. Alur yang cepat dan padat membuatku tidak sekalipun merasa bosan. Biasanya, novel dengan genre dystopia akan membuatku bosan karena penulis berusaha menggambarkan detail dunia rekaan mereka. Tapi anehnya Legend tidak seperti itu. penggambaran detail tempat dijelaskan secara pas sehingga tidak ada paragraf yang ‘mubazir’. Penggunaan alternate pov yang awalnya kukira tidak akan memberi kejutan ternyata malah menjadi senjata ampuh untuk membuatku terkaget-kaget. Padahal kelemahan pov seperti ini adalah pembaca sudah tahu pikiran masing-masing tokoh sehingga keseruan cerita jadi terasa berkurang. Nyatanya masih banyak twist yang bisa membuatku memekik “OMG!” berkali-kali.


“Setiap hari berarti 24 jam yang baru. Setiap hari berarti segalanya kembali mungkin. Kau hidup pada saat ini, kau mengambil itu semua dalam satu hari, dalam satu waktu” –Day (hal. 382)


Pokoknya novel yang awalnya memberiku banyak ketidaknyamanan ini telah sukses membuatku jatuh cinta setengah mati, kepada tokoh-tokohnya, juga kepada alurnya.

 

 

 

 

 

Advertisements