22041236

  • Judul: Legend: Champion
  • Penulis: Marie Lu
  • Penerjemah: Lelita Primadani
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 454 hal.
  • Rating: ★★★★★

Perang kembali pecah. Pihak Koloni dan Republik saling mencurigai satu sama lain sebagai dalang dibalik penyebaran virus baru yang mematikan. Kali ini, koloni berada di atas angin karena bersekutu dengan Afrika. Untuk bertahan, Republik harus menemukan vaksin dari virus tersebut, dan jawabannya ada di dalam diri Eden, adik Day.  Atas perintah Elector, June harus membujuk Day untuk menyerahkan satu-satunya keluarga yang dimiliki pemuda itu.

Setelah semua penderitaan dan kehilangan yang mereka alami karena Republik, sanggupkah Day dan June memberikan pengorbanan yang lebih besar lagi untuk Negara ini? Dan masih adakah secercah harapan bagi keduanya untuk menjalani hidup bahagia bersama?

– – –

 

Ternyata masalah tak berhenti datang bahkan setelah Day bertemu kembali dengan adiknya, Eden. Setelah menyelematkan adiknya dan di rawat di RS, dokter justru menemukan hal mengejutkan dalam kepala Day. Suatu bagian dalam otaknya rusak akibat eksperimen terhadapnya saat berusia 10 tahun, dan kerusakan itu kini mengancam nyawanya. Akhirnya, setelah memutuskan hubungannya dengan June, Day dan Eden pindah ke kota lain untuk menjalani pengobatan. Tentu saja June tak tahu apa yang terjadi pada Day. Yang ia ketahui hanyalah bahwa hubungan mereka memang tak akan pernah berhasil karena baying-bayang masa lalu.

DSC_0290 (4)June pun terpilih dari satu dari tiga Princeps, orang yang akan mendampingi Elector ke mana pun. Dalam suatu kesempaan, Elector memberitahu June bahwa perang akan kembali pecah karena Koloni menuduh Republik menyebarkan virus di wilayah mereka. Satu-satunya cara agar Koloni mengentikan niatnya adalah dengan memberikan vaksin dari virus tersebut. Hanya saja, itu tak semudah kedengarannya karena vaksin tersebut berada dalam darah Eden.

Di tengah penderitaannya akibat berpisah dengan Day, June yang seorang Princeps pun harus melaksanakan tugasnya membujuk Day untuk ‘menyerahkan’ adiknya.

Intens dan emosional.

Marie Lu mengajak kita untuk merasakan kemarahan dan kesakitan yang dialami Day berkat ulah Republik di masa lalu. Bukan hanya itu, kita bahkan dibuat kesal oleh permintaan Elector yang menginginkan adik Day kembali menjadi subyek eksperimen. Ayolah, setelah apa yang kalian lakukan pada Day dan adiknya, kalian masih tidak punya malu untuk kembali meminta sesuatu pada Day? *kesel setengah mati!*


“Karena Day memilih berjalan dalam cahaya” –June (Hal. 112)


 

Setelah sempat merasa bosan di Prodigy, Champion kembali menyuguhkan aksi-aksi patriotik Day dan teman-temanya. June yang sebelumnya lebih banyak bernegosiasi, di buku ini akhirnya mendapat porsi untuk menunjukkan taringnya.

Buku pamungkas ini menunjukkan kematangan karakter tokoh-tokohnya. Utamanya Tess. Dia yang di buku sebelumnya membuatku kesal karena begitu egois menginginkan Day, dibuku ini mulai memperlihatkan kedewasaannya. Bahkan Day yang meledak-ledak berubah menjadi lebih tenang. Aksinya bersama Pascao saat memasang bom di pangkalan pesawat Koloni adalah bagian favoritku.

Lalu… bagian akhir buku ini sukses membuatku tak sanggup menahan air mata. Buku ketiga di tahun ini yang membuatku menangis, kurasa (setelah A monster Calls dan The Lady in Red). Kemampuan Marie Lu dalam meramu kata untuk mengingkapkan perasaan tokoh-tokohnya memang luar biasa. Saat Day kesakitan berjuang melawan penyakitnya, kita seolah bisa ikut merasakan sakit itu. Saat June dan Day berpisah, kita ikut dibuat patah hati. Lalu saat June nyaris kehilangan Day di medan perang, seolah-olah kita ikut berkabung untuknya. Kurasa ini dystopian pertama yang kubaca dengan penuh emosi. Aku dibuat tertawa di buku pertama oleh sikap Day yang agak mata keranjang, harap-harap cemas di buku kedua, dan kemarahan serta kesedihan di buku ketiga.


“Rasa takut membuatmu lebih kuat” –June (hal. 270)


Aku jadi bertanya-tanya, kenapa seri ini belum mendapatkan adaptasi film padahal jika mengingat kembali intensitas aksinya, Hunger Games sungguh kalah telak. Karena Hunger Games dan Under The Never Sky, aku sempat berprasangka bahwa penulis perempuan tidak mahir dalam menulis adegan aksi. Lagi-lagi aku keliru. Marie Lu mematahkan prasangka itu. Dan jika kau penasaran seperti apa ketegangan aksi Day dan June di medan perang, silakan baca seri ini. Kalian tidak akan menyesal. Aku pribadi sudah memfavoritkan Marie Lu sebagai salah satu penulis yang karyanya akan kutunggu-tunggu. Next… it will be The Young Elite.

Advertisements