29860681

  • Judul: Purple Eyes
  • Penulis: Prisca Primasari
  • Penerbit: Penerbit Inari
  • Jumlah Halaman: 144 hal.
  • Rating: ★★★★☆

 

“Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang  yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongksh patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. solveig, gadis itu tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju.

Namun, cinta akan selalu ada bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

– – –

Hades sang dewa kematian merasa pusing dengan peristiwa pembunuhan berantai yang terjadi di dunia. Bersama asistennya, ia akhirnya turun ke bumi untuk ‘mengurus’ pembunuh berantai yang mengambili lever para korbannya itu. Menyamar sebagai manusia, Hades menggunakan nama Herr Halstein dan asistennya Lyre menggunakan nama Solveig.

Di bumi, mereka menggunakan Ivarr Amundsen yang merupakan saudara dari salah satu korban sebagai ‘perantara’ untuk menyelesaikan misinya. Selain itu, Solveig juga diberikan misi khusus untuk memantik kembali emosi Ivarr yang meredup setelah kematian adiknya. Oleh karena itu, dengan menyamar sebagai pemesan souvenir Troll dari Inggris, mereka pun masuk ke dalam kehidupan Ivarr yang muram.


“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (hal. 117)


Ini adalah novel kedua kak Prisca yang aku baca setelah seri Love Theft. Seperti biasa, soal karakterisasi kak Prisca memang sudah khatam. Tidak hanya memiliki nyawa masing-masing, kehadiran karakter-karakter itu juga memberi suasana tersendiri disetiap kemunculannya. Ivarr yang sendu dan muram, Solveig yang lembut dan hangat, dan Halstein yang dingin dan misterius. Bisa dibayangkan jika mereka menyatu dalam sebuah cerita, suasana seperti apa yang akan terasa.

DSC_0288 (2)Kata seorang teman (ga mau colek orangnya) yang telah membaca novel ini, “Purple Eyes adalah novel Indonesia pertama yang auranya begitu kuat”. Aku tidak banyak membaca novel lokal jadi aku 100% setuju dengannya.

Suasana muram dan dingin dalam novel akan langsung terasa begitu kau membuka halaman pertama (pakailah sweater atau semacamnya saat membaca novel ini hehe).

Namun di antara seluruh kesan yang muncul ketika membaca, yang paling berkesan adalah saat Ivarr dan Solveig duduk di ruang baca dengan perapian menyala sembari mengobrol hingga larut malam. Padahal yang mereka obrolkan biasa saja, namun aku merasa seperti tersedot dalam cerita dan bisa merasakan suasana hangat di antara mereka.

Satu hal yang membuatku kurang puas adalah tidak digalinya sisi misteri dalam novel yang dihadirkan si pembunuh berantai. Karena disebutkan diawal tujuan utama Hades ke bumi adalah untuk membereskan si pembunuh, aku jadi berekspektasi akan ada adegan ‘eksyen’ atau semacamnya untuk mengungkap jati diri si pembunuh. Namun cerita ini rupanya lebih fokus ke hubungan Solveig dan Ivarr. Cukup rumit sih, mengingat mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Seperti tagline di cover “Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati”.

Mungkin karena ini adalah novella, dengan halaman yang sedikit tentu tidak bisa menggali semua sisi cerita. Genre utamanya romance sehingga bagian mencari pembunuh hanyalah ‘pemantik’ yang menghidupkan cerita ini.

Overall buku ini sangat layak dikoleksi sebagai bacaan ringan. Utamanya bagi para penggemar kisah-kisah sendu dengan sentuhan magis. Aku pribadi menunggu kak Prisca menulis novel yang LEBIH TEBAL agar bisa berlama-lama ‘berteman’ dengan karakter-karakter ciptaannya. I dare you kak Prisca! “>_<)9

Advertisements