29861520

  • Judul: The Lady in Red
  • Penulis: Arleen A.
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 357 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

Betty…

Sebenarnya tidak ingin bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu

Bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa

Tidak tahu bahwa itu akan mengubah hidupnya

Robert…

Sebenarnya tidak suka bersekolah di sekolah swasta yang mahal itu

Bersekolah di sana hanyalah karena disuruh orang tuanya

Tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty

Rhonda…

Tahu ia gemuk

Tidak tahu bahwa ia menyukai Greg

Tidak tahu bahwa Greg juga menyukainya

Greg…

Tahu ia hanya pekerja di peternakan milik keluarha Rhonda

Tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah

Tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda

 

Tapi sejauh apa pun dirimu pergi

Sejauh apa pun perasaanmu menjauh

Selalu aka nada tempat yang menarikmu pulang

Selalu aka nada hati yang menarikmu kembali

– – –

Betty adalah gadis keturunan Tionghoa. Memiliki ibu yang sangat menjaga tradisi. Betty selalu diminta ibunya untuk mengenakan pakaian berwarna merah agar hidupnya beruntung. Tapi rupanya yang membawa ‘keberuntungan’ itu bukanlah baju berwarna merah, melainkan rambut panjangnya yang selembut sutera. Teman sekelas Betty yang bernama Robert, jatuh cinta pada Betty karena rambutnya. Setiap hari duduk di belakang Betty membuat Robert tanpa sadar terobsesi untuk menyentuh rambut Betty.

Dan… hadirnya kesempatan itu sekaligus membuka jalan bagi dua kisah berikutnya untuk ‘hidup’.

Kisah Jerry dan Wanda, yang juga memiliki peternakan sapi seperti Robert, yang secara unik ternyata juga memiliki benang merah dengan kisah Betty dan Robert.

DSC_0717Kisah Rhonda dan Greg yang menguasai 70% dari keseluruhan isi buku juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan kisah Betty dan Robert. Dikisahkan tentang Rhonda yang tinggal dipeternakan memiliki teman bernama Greg. Greg adalah anak dari pekerja di peternakan Rhonda. Setiap hari mereka selalu bermain bersama hingga usia mereka menginjak dewasa dan hubungan mereka tanpa sadar pun berjarak. Namun melalui jarak itu pula lah mereka sadar dengan perasaan masing-masing. Hanya saja, hubungan mereka berkembang tak semulus datangnya cinta. Status Greg yang seorang pekerja membuatnya merasa tidak pantas untuk memelihara perasaan cinta terhadap Rhonda. Sikap Greg yang menahan diri akhirnya membuat Rhonda berpikir bahwa Greg tak pernah menganggapnya lebih dari seorang majikan, sehingga tak mungkin Greg menyukainya. Kisah cinta mereka yang berjarak ini membutuhkan beratus-ratus halaman untuk menemui penyelesaian.

Sebelum memulai review (yang mungkin akan) panjang, terlebih dahulu aku ingin mengakui bahwa sesungguhnya cover buku ini menipuku. Yahh… memang aku sudah membaca blurb yang secara jelas telah memberitahu kita genre buku ini. Hanya saja aku berpikir bahwa blurb bisa saja menipu sehingga mulanya kupikir buku ini akan ada unsur misteri, thriller, detektif, atau semacamnya.

Aku salah besar. Genrenya murni romance saudara-saudara…

Hal kedua yang juga memiliki potensi untuk menipu adalah diksi yang digunakan penulis. Jika seseorang membaca buku ini tanpa memperhatikan nama penulisnya, tentu saja ia akan beranggapan sedang membaca buku terjemahan. Gaya bertutur penulis yang terasa kental aura baratnya juga diperkuat oleh latar tempat cerita yang berlokasi di Fort Bragg, California. Berbeda dengan novel yang memiliki setting luar negeri dari penulis lain, The Lady in Red justru mengedepankan nuansa country-side dengan peternakan sapi dan ladang gandum.

Kisah cintanya, meskipun dimulai sejak remaja namun tidak terasa cheesy. Kisah Robert dan Betty mengingatkanku pada Eleanor and Park, manis dan lucu.


“…seolah mulai sekarang hidupnya akan terbagi menjadi dua babak, sebelum ia menyapu daun-daun itu dari rambut gadis ini dan sesudah.” (hal. 30)


 

Hal unik lain dari The Lady in Red adalah adanya Interlude yang mengangkat kisah Serigala dan Gadis Berkerudung Merah. Kisah ini terbagi menjadi beberapa babak dan diselipkan di antara bab-bab yang (kusadari belakangan) sekaligus menjadi petunjuk ke arah mana cerita berikutnya akan mengarah.

Terakhir, aku ingin memberikan pujian pada kak Arleen karena telah menjadi penulis Indonesia pertama yang membuatku menangis karena membaca karyanya. Benar-benar menangis. Suatu adegan dalam novel ini muncul secara tiba-tiba, dan menghancurkan hatiku dalam sekejap. Aku tak ingin menjelaskan dibagian mana dan adegan apa karena semakin sedikit yang kita ketahui di dalam cerita ini, akan semakin seru membacanya. Hal yang membuatku jatuh cinta setengah mati dengan novel ini adalah diksi kak Arleen yang sangat enak, bagai membaca terjemahan novel-novel klasik.

Sekarang aku punya penulis Indonesia yang akan selalu kutunggu karya-karyanya.

Advertisements