29436212

  • Judul: The Stardust Catcher
  • Penulis: Suarcani
  • Jumlah Halaman: 183 hal.
  • Rating: ★★★½

 

“Apa harapanmu tahun ini?”

Joe: Punya alternatif lain untuk berbahagia selain dengan mencari pasangan

Mela: Mendapat tambahan umur setidaknya empat tahun lagi, yah… biar bisa main remi lebih lama lagi sih.

Bermula dari secarik kertas dalam jaket di commuter line, Joe dan Mela bercengkerama lewat ask.fm. Selama setahun, hanya lewat media sosial itulah mereka berhubungan. Hingga Joe tertinggal rombongan saat liburan bersama teman-teman kuliahnya. Ia tersesat di Bali. Sendirian.

Saat itulah Sally Cinnamon muncul dan mengaku sebagai peri yang akan mempertemukan Joe dengan jodohnya. Wait, peri jodoh? Yang benar saja?

Ditemani Sally, Joe berusaha mencari rombongannya. Petualangan yang mempertemukannya dengan Mela, si spa therapist yang sekarat.

Apakah Mela jodoh yang dimaksud Sally? Apakah Joe benar-benar tersesat dan bukannya sengaja menghilang karena protes akan perceraian orangtuanya?

– – –

Joe, pemuda berusia 20 tahun marah kepada orangtuanya yang hendak bercerai. Baginya mereka terlalu egois karena hanya memikirkan kebahagian mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai bentuk protes ketika ibunya menawarkan pilihan untuk tinggal bersama siapa, Joe menolak keduanya dengan mentah-mentah dan berangkat ke Bali.

Saat di Bali, bukannya kesenangan yang ia dapat melainkan kesialan beruntun. Mulai dari tertinggal rombongan, tersesat di hutan, hingga bertemu peri yang mengaku peri jodohnya. Peri yang bernama Sally itu memiliki misi untuk mempertemukan Joe dengan Mela.

Namun tanpa mereka ketahui, gadis yang bernama Mela tersebut sedang terlibat masalah besar yang mengancam nyawanya. Sally sang peri jodoh pun terancam gagal melaksanakan tugasnya.

Tema peri jodoh sebenarnya bukan hal baru lagi. Hanya saja, penulis mengemas The Stardust Catcher dengan cara yang berbeda melalui aksi dan petualangan Joe saat tersesat di Bali. Belum lagi karakter Mela, si heroin yang lucu kadang membuat senyum-senyum sendiri dengan gurauannya.


“Mendapat tambahan umur setidaknya empat tahun lagi. Yah… biar bisa main remi lebih lama lagi sih.” –Mela (hal. 18)


Karakter lain yang tidak kalah menarik adalah Sally Cinnamon sang peri. Penulis berhasil menghidupkan karakternya yang lincah dan periang melalui penggambaran sosoknya yang menyerupai anak ABG. Saya cukup terkejut waktu Sally menceritakan asal usulnya yang berhubungan dengan Mitologi Nordik. Saya bukan penggemar kisah mitologi itu namun menambahkan unsur ini jelas menjadi poin tambahan kenapa sosok Sally yang paling membekas.

Yang tidak istimewa justru Joe.


“Biarlah ahanya mereka di dalam sana yang tahu, seberapa banyak hening yang dibutuhkan untuk menyumpal sebuah jarak” (halaman 14)


Digambarkan sebagai pria berusia 20 tahun yang protes pada perceraian orangtuanya dengan cara tidak memilih untuk tinggal bersama siapapun. Untuk karakter pria berusia dua puluhan, dialog Joe terasa kekanak-kanakan.


“Jujur, jika aku boleh milih, aku lebih baik tidak dilahirkan. Harusnya Mama aborsi saja dulu. Bunuh aku sebelum sempat lahir.” –Joe (hal. 160)


DSC_0484Ini dialog yang sangat menyebalkan. Tapi kemudian aku berpikir, selama 20 tahun Joe hidup sebagai anak tunggal, bisa saja tanpa ia sadari telah tumbuh dengan watak anak manja dan egois. Sehingga caranya untuk menghadapi perceraian orang tuanya terasa tidak dewasa. Well, ini hanya catatan kecil untuk penulis di kemudian hari.

Seara keseluruhan, novel setebal 183 halaman ini merupakan novel yang menarik. Bagian Joe tersesat adalah bagian favoritku karena penulis berhasil menggambarkan situasi hutan yang mencekam di malam hari. Saya berharap bisa membaca karya-karya penulis lagi di kemudian hari.

Advertisements