13408579

  •    Judul: Mockingjay (Hunger Games #3)
  •    Penulis: Suzanne Collins
  •    Penerjemeh: Hetih Rusli
  •    Penerbit: GPU
  •    Jumlah Halaman: 423 hal.
  •    Rating: ★★★★☆

 

Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games dua kali. Tapi Katniss belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun sekarang ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol/ kini tak ada seorang pun yang dicintai Katniss aman karena Presiden snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay… bagaimanapun caranya.

– – –

 

Setelah berhasil diselamatkan dari arena hunger Games yang hancur, Katniss mengalami stress berat. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Peeta diathan oleh Capitol setelah gagal ikut diselamatkan oleh kelompok pemberontak yang diketuai oleh Plutarch saat itu. Ia akhirnya menolak untuk percaya pada siapapun kecuali pada Gale dan keluarganya.

Barulah setelah Coin, Presiden distrik 13, berjanji untuk menyelamatkan Peeta dan pemenang lain yang masih disandera, Katniss baru mau membuka dirinya dan bersedia menjadi Mockingjay.

Sayangnya, menyelamatkan Peeta saja belum bisa mengakhiri penderitaan Katniss. Peeta pulang dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya kurus dan ingatannya telah dimodifikasi. Presiden Snow telah mengubah Peeta sebagai orang yang akan membunuh Katniss.

Pemberontakan yang ‘gagal’ terjadi di Catching Fire akhirnya BENAR-BENAR terjadi di Mockingjay.

DSC_0575Dan bukan hanya melibatkan Distrik 13, tapi juga seluruh distrik yang dulunya berada dibawah tekanan Capitol. Peran Katniss sebagai mockingjay sukses mengobarkan semangat pemberontakan di seluruh distrik.

Ini kisah yang benar-benar panas. Banyak aksi, banyak ledakan, banyak tokoh-tokoh penting yang mati. Aku memuji keberanian penulis untuk membunuh tokoh-tokohnya demi membuat buku pamungkas ini berkesan.

Hanya saja peran Katniss dalam pemberontakan tidak terasa kecuali hanya sebagai orator. Ia tidak benar-benar terjun langsung dalam aksi menaklukkan distrik 2. Bahkan ia tidak terlibat dalam misi peneyelamatan Peeta. Tahu tahu Peeta sudah berhasil diselamatkan dan pulang dalam keadaan mengenaskan.

Peran Katniss dalam revolusi sungguh hanya sebagai pembakar semangat saja.


“Dan jika kami terbakar, kau terbakar bersama kami!” –Katniss (hal. 113)


Itu belumlah seberapa jika mengulas kembali aksinya di Capitol, dan sumpahnya untuk membunuh Presiden Snow. Pada akhirnya siapa yang berjasa menaklukkan Capitol dan siapa yang berhasil membunuh si penjahat utama sangatlah jauh dari perkiraan.

Well, saya menyebut novel ini sebagai novel kontradiktif. Di satu sisi, kisah ini dibalut dengan aura suram. Kematian masal akibat ledakan, pembunuhan keji, pembantaian, penyiksaan, semua bikin ngilu. Tapi rutinitas Katniss melakukan syuting adalah hal yang terasa sangat ganjil dan terkesan main-main. Baiklah jika ingin dikatakan bahwa itu bentuk propaganda. Namun, keharusan Katniss untuk memakai kostum dan dirias bukanlah hal yang wajar ditengah huru hara pemberontakan.

Pahlawan macam apa yang harus dirias untuk membentuk imejnya sendiri?

Kontradiktif!

Yah… tapi sekali lagi karena ini novel yang seru untuk diikuti, saya tak ragu memberinya empat bintang. Saya menyukai sensasi ngilu ketika membaca novel ini. Hehe…

Advertisements