7077211

  • Judul: The Hunger Games (Hunger Games #1)
  • Penulis: Suzanne Collins
  • Penerjemeh: Hetih Rusli
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 406 hal.
  • Rating: ★★★★☆

Dua puluh empat peserta, hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri Negara Panem dengan capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak laki-laki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah membunuh atau dibunuh.

Ketika asik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

– – –

Katniss adalah gadis pemburu. Setiap hari pekerjaannya adalah berburu dihutan untuk menghidupi keluarganya. Hasil buruannya akan dibawa ke Hob untuk ditukarkan dengan bahan makanan lain. Terkadang Katniss membawa buruang yang lebih kecil untuk dimakan bersama ibu dan adik perempuannya.

Selama berburu Katnis ditemani Gale, pria yang telah menjadi sahabatnya semenjak ayah Katniss meninggal. Sejak Gale bersamanya untuk berburu, hasil buruan Katniss jauh lebih banyak. Kemampuan Gale dalam memasang jerat membuat kegiatan berburu mereka lebih efisien.

Namun hari pemilihan selalu membayangi remaja-remaja di setiap distrik, tak terkecuali distrik 12 tempat tinggal Katniss dan Gale. Tahun ini peluang mereka untuk terpilih menjadi peserta The Hunger Games jauh lebih besar berkat Tessera yang mereka ambil setiap tahun. Hanya saja, perkiraan mereka meleset jauh. Nama mereka tak disebut dalam pemilihan. Melainkan Prim, adik Katnis yang masih berusia 12 tahun. Karena tak ingin adiknya terlibat dalam acara televisi brutal itu, dengan sukarela Katniss mengajukan dirinya sebagai pengganti.

Brutal. Itulah kata yang sanggup mewakili The Hunger Games. Bukan dari cara pesertanya saling bunuh, melainkan acara itu sendiri. Memikirkan orang-orang bersorak saat menonton acara dimana anak-anak remaja saling membunuh benar-benar sebuah tindakan barbar. Aku secara pribadi merasa acara televisi ini sangat biadab. Alasan yang mengatakan acara ini dimaksudkan untuk mengingatkan tiap distrik akan pemberontakan masa lampau adalah omong kosong. Bagaimana mungkin mereka tega ‘mengorbankan’ remaja di distriknya untuk saling bunuh tiap tahun? Lebih dari itu, ditonton jutaan orang sebagai hiburan tahunan dan diperlakukan seperti perayaan besar-besaran? Kenapa mereka mau mengikuti aturan kejam itu? Kenapa tidak ada yang memberontak untuk menghapusnya? Padahal, jika tiap distrik menggabungkan kekuatan untuk menentang Capitol, sehebat apapun Capitol pasti akan jatuh karena kalah telak dalam hal jumlah. Aku merasa alasan itu tidak masuk akal meskipun sangat menikmati cerita saling bunuh ini.

DSC_0620Pertarungan hidup mati dimulai di pertengahan buku. Dengan kata lain, dari awal hingga separuh cerita hanya berpusat pada karakter Katniss. Ini terasa menyebalkan karena karakternya tidak begitu menantang. Dia bukan tipe pemberontak yang menolak apapun yang disiapkan Capitol untuknya. Ia marah namun tidak bisa bersikap angkuh. Dan yang lebih penting lagi, dia pun merasa Hunger Games adalah hal yang wajar tanpa pernah sekalipun berpikir untuk memberontak dan menghapus acara ini selama-lamanya. Dia tipe pemarah yang terlalu patuh pada peraturan, hal yang membuat karakternya terasa tanggung.

Aku lebih senang dengan Peeta. Anak laki-laki dari distrik yang sama dengan Katniss dan juga ikut dalam Hunger Games. Karena penulis menceritakan kisah ini dari sudut pandang Katniss, karakter Peeta selalu penuh tanda tanya. Aku selalu merasa kebaikannya memiliki maksud tersembunyi. Itu membuatku menahan diri untuk mencintai karakternya karena takut akan merasa dikhianati di akhir cerita.

Namun diluar omong kosong alasan penciptaan Hunger Games, aku sungguh menikmati cerita ini. Ketegangan saat semua peserta memasuki arena permainan sangat terasa. Tak ada aturan baku. Satu-satunya peraturan hanyalah membunuh atau dibunuh karena permainan ini hanya menyisakan satu pemenang. Hal itu terus membuatku dilema sepanjang cerita karena berharap Peeta ikut selamat dalam The Hunger Games. Empat bintang untuk buku pertama seri ini.

Advertisements