20814993

  • Judul: Half Lost (Half Bad Trilogy #3)
  • Penulis: Sally Green
  • Penerbit: Viking Books for Young Readers
  • Jumlah Halaman: 328 hal.
  • Rating: ★★★★☆

The Alliance is losing the war, and their most critical weapon, seventeen-year-old witch Nathan Byrn, is losing his mind. Nathan’s tally of kills is rising, and yet he’s no closer to ending the tyrannical rule of the Council of White Witches in England. Nor is Nathan any closer to his personal goal: getting revenge on Annalise, the girl he once loved before she committed an unthinkable crime. An amulet protected by the extremely powerful witch Ledger could be the tool Nathan needs to save himself and the Alliance, but this amulet is not so easily acquired. And lately Nathan has started to suffer from visions: a vision of a golden moment when he dies, and of an endless line of Hunters, impossible to overcome. Gabriel, his closest companion, urges Nathan to run away with him, to start a peaceful life together. But even Gabriel’s love may not be enough to save Nathan from this war, or from the person he has become.

Set in modern-day Europe, the final book in the Half Bad trilogy is more than a story about witches. It’s a heart-achingly visceral look at survival and exploitation, the nature of good and evil, and the risks we take for love.

– – –

Aliansi kalah telak setelah senjata rahasia mereka, Marcus terbunuh dalam pertarungan. Annalise, gadis yang sangat dicintai Nathan lah pembunuh Marcus. Kini, setelah anggota Aliansi yang tersisa bersembunyi untuk menyusun rencana baru, Nathan malah terjebak dalam dendamnya.

Setelah memakan jantung ayahnya, Nathan mewarisi seluruh Anugerah ayahnya. Ia dapat menyemburkan api dari mulutnya, mengeluarkan listrik dari tangannya, bisa menghilang, dan yang paling disukainya dalah menghentikan waktu. Hanya saja, Anugerah yang terakhir itu sangat sulit untuk dikuasainya mengingat kondisi emosinya yang tidak stabil. Belum lagi ia sering memiliki penglihatan tentang Gabriel yang menembaknya. Meskipun tak percaya pada penglihatan nya, Nathan tetap menjaga jarak pada siapa pun.


“Having vision is more of a curse than a gift” – Nathan


Di tengah kekacauan yang ia hadapi, muncullah harapan dari seseorang bernama Ledger yang memiliki Amulet. Amulet itu membuat Nathan kebal dari serangan fisik apapun. Hanya saja, mendapatkan Amulet itu bukan perkara mudah. Ledger bukanlah penyihir yang mudah diyakinkan kendati ia berada di pihak yang sama dengan Nathan.

Nathan tak ingin menyerah. Demi dendamnya pada Annalise dan demi mencegah penglihatannya menjadi kenyataan, ia harus mendapatkan amulet itu dan memenangkan perang melawan Hunter dan penyihir putih yang dipimpin oleh Soul.

Akhirnya setelah menunggu tiga bulan demi membaca kelanjutan Half Wild, buku ini terbit. Meski harus membaca versi ebook dulu karena Mizan belum menerjemahkan seri ketiga ini. Udah gak sabar mengetahui nasib Nathan soalnya.

Seri ketiga sebenarnya dibawah ekspektasi. Sempat agak kecewa dengan Half Wild yang kehilangan ‘kesadisannya’, buku ketiga ternyata juga tidak memuaskanku. Untuk seri pamungkas, aku menantikan pertempuran yang berdarah-darah dan menguras emosi. Namun, selain penyerangan Aliansi pada beberapa Hunter, pertarungan lain tidak begitu seru menurutku.

Untungnya, Nathan tidak kehilangan karakter liarnya. Aku benar-benar merasa perpaduan darah ‘hitam dan putih’nya sangat memengaruhi jalannya cerita. Seringnya ia mendapatkan penglihatan membuatnya dilema. Nathan terjebak di antara pembalasan dendam dan melindungi aliansi.

Mengutip kalimat Dumbledore, baik buruknya seseorang bukan bergantung pada dari mana dia lahir. Namun langkah apa yang dia ambil. Nathan terus berperang dengan dirinya sendiri untuk tetap berada di sisi baik dan mengendalikan sisi hewan dalam tubuhnya.

Kurasa kunci ketidakpuasanku akan seri ketiga terletak pada benda sihir yang bernama Amulet. Karena benda itu membuat Nathan kebal dari serangan, ia menjadi sulit dikalahkan. Pertarungan yang melibatkan fisik tidak berkesan. Jauh berbeda jika membaca buku pertama yang seringkali membuat ngilu karena banyaknya adegan kekerasan. Yah, sesuatu yang sempurna akan membuat orang bosan.

Akhirnya seri pamungkas Half Bad trilogy hanya ditutup dengan empat bintang, berbeda dengan seri pertamanya yang tanpa ragu kuberi lima bintang. Aku menanti karya Sally Green berikutnya untuk kembali menghadirkan kisah-kisah yang bikin ‘ngilu’.

Advertisements