8549012

  • Judul: Catching Fire (Hunger Games #2)
  • Penulis: Suzanne Collins
  • Penerjemeh: Hetih Rusli
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 420 hal.
  • Rating: ★★★☆☆

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katnis ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan. Satu-satunya cara meredam keinginan penduduk untuk memberontak adalah dengan membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa ada keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya…

– – –

Setelah menjadi pemenang Hunger Games, hidup Katniss berubah total. Ia dan keluarganya kini tinggal berkecukupan di Desa Pemenang bersama Haymitch dan Peeta. Namun kelebihan materi tak membuat hidupnya tenang. Ia memikirkan nasib hubungannya dengan Gale yang merenggang. Ada pula ancaman dari Presiden Snow yang bermaksud membunuh Gale, dan yang paling mengganggunya adalah pelarian dua penduduk distrik 8 menuju distrik 13. Mau tidak mau Katniss ikut memikirkan apakah benar jika Distrik 13 masih ada dan sanggup bertahan hingga sekarang?

Hanya saja rasa penasaran itu harus dibuangnya jauh-jauh kini. Katniss kembali dihadapkan pada masalah hidup dan mati yang juga melibatkan keluarganya. Untuk merayakan Quarter Quell, acara 25 tahunan Hunger Games, dipilihlah peserta dari para pemenang masing-masing distrik untuk bertarung sampai mati. Katniss dan Haymitch adalah peserta terpilih, namun segera saja Peeta mengajukan diri untuk menggantikan Haymitch. Semua untuk satu alasan, memastikan Katniss selamat dan keluar sebagai pemenang. Tapi, bukan hanya Peeta yang punya rencana seperti itu. Katniss pun telah berjanji pada diri untuk melindungi Peeta dalam permainan ini demi satu tujuan besar, menyulut pemberontakan besar-besaran.

Pemberontakan…

Kata itu yang sejak di buku pertama kutunggu-tunggu kemunculannya. Rasanya tidak mungkin tak ada niat memberontak setelah puluhan tahun distrik-distrik hidup dalam ketakukan Hunger Games. Namun sayang, lagi-lagi ekspektasiku mengenai serunya pemberontakan belum terjawab di buku ini. Untuk beberapa alasan, buku terasa seperti ‘membuang-buang halaman’ karena konfliknya lebih banyak membahas mengenai persiapan Quarter Quell. Aku tidak mengerti, kenapa penulis kembali memasukkan Hunger Games yang brutal sebagai solusi untuk meredam pemberontakan. Bila mengingat tirani Presiden Snow, tentunya akan lebih efektif jika ia menurunkan pasukan untuk membunuh pemberontak sebelum ‘api’ menyebar terlalu jauh. Dengan mengadakan Quarter Quell yang berisikan pemenang Hunger Games, bukanlah hal yang aneh jika itu malah memicu pemberontakan besar-besaran.

1460947748030Hal lain yang menggangguku adalah karakter Katniss yang angin-anginan. Di buku pertama, beberapa kali Katniss digambarkan sebagai gadis yang cerdas karena mampu menebak petunjuk-petunjuk dari Haymitch. Namun sikapnya yang ‘penurut’ dan mudah bimbang membuatku tidak tahan. Semangatnya yang berapi-api mudah sekali padam dengan sedikit tiupan. Ancaman pihak yang berseberangan dengannya akan membuatnya jadi penurut. Bukannya marah dan ikut mempelopori pemberontakan, dia malah menerima keadaan dengan kembali menjadi peserta Hunger Games.

Peeta yang menjadi karakter favoritku di buku pertama juga membuatku sedikit kecewa. Memang kemampuannya dalam memengaruhi orang melalui kata-kata masih ia tunjukkan sesekali. Hanya saja dalam Quarter Quell ia sungguh tidak member andil apa-apa. Yah.. aku memang tidak bisa berharap banyak soal pertarungan karena sejak di buku pertama Peeta memang tidak digambarkan sebagai petarung. Tetapi aku tidak mengharapkan karakternya akan berubah sepayah ini.

Dengan begitu banyak kekecewaan di bukukedua, aku berharap Suzanne Colins memperbaikinya di buku terakhir. Khususnya Peeta, karena bagiku sesungguhnya dialah api yang menyulut pemberontakan.

Advertisements