23399788

  • Judul: Under The Never Sky (Under The Never Sky #1)
  • Penulis: Veronica Rossi
  • Penerjemah: Dina Begum
  • Penerbit: Mizan Fantasi
  • Jumlah Halaman: 492 hal.
  • Rating: ★★★☆☆

Dunia berada diambang kehancuran, langit bergejolak terus oleh badai Aether. Dalam dunia kacau balau ini, umat manusia terbagi menjadi dua kelompok yang saling emmandang rendah: mereka yang berlindung di dalam Pod disebut Tikus Mondok, dan mereka yang sanggup bertahan di alam terbuka disebut Kaum Buas.

Takdir mempertemukan Aria, si gadis Tikus Mondok, dengan Perry, pemuda dari kaum buas. Mereka saling benci, tapi juga saling membutuhkan. Aria memerlukan Perry untuk menemukan ibunya, sedangkan Perry memerlukan Aria untuk menemukan keponakannya. Perjalanan mereka penuh bahaya. Bukan hanya terpajan badai Aether, mereka juga dikejar-kejar oleh kaum kanibal. Akankah mereka berhasil menemukan apa yang dicari, apalagi keduanya kini sama-sama terbuang? Dapatkan mereka bertahan hidup di dunia yang ganas dan liar, di bawah langit yang menghujamkan petir demi petir?

– – –

Demi mencari ibunya, Aria meminta Soren untuk membantunya meretas sistem keamanan Pod. Namun bukannya mendapatkan bantuan, Aria justru terlibat masalah besar berkat kecerobohan Soren yang menyulut api. Malam itu, beberapa teman mereka mati terbakar. Soren sendiri terluka dan Aria berhasil selamat berkat bantuan Orang Liar, Perry.

Setelah mendapatkan perawatan, Aria menjalani siding untuk mengetahui kejadian sebenarnya yang terjadi pada malam itu. Hanya saja, Aria tak bisa membuktikan ucapannya bahwa Soren lah yang menyulut api karena smarteye-nya hilang. Sebagai hukuman, Aria dibuang ke alam liar, di mana badai Aether selalu menyambar. Di sanalah Aria dan Perry bertemu unuk kedua kalinya

Harus kuakui bahwa novel ini punya potensi untuk menjadi seru, bahkan sangat seru. Veronica Rossi membuat Reverie, sebuah dunia virtual yang dikendalikan oleh komputer. Bebatuan punya ukuran yang sama, buah tidak pernah membusuk, api tidak akan bisa membakar, dan wanita tidak mengalami menstruasi. Untuk yang terakhir aku tidak mengerti bagaimana cara mereka punya anak. Entah aku yang melewatkan, atau karena masalah Rossi adalah dia memang tidak pandai menjelaskan ceritanya dengan rinci.

Dunia Reverie meskipun bisa menjadi hebat, terkesan hanya lewat sepintas. Ada hanya karena disebutkan dalam cerita. Kita tidak sempat ‘mengalami’ dunianya karena Aria, satu-satunya yang bisa membawa kita berpetualang ke dunia itu justru dibuang ke alam liar. Oh well, tidak masalah karena aku juga tidak begitu suka dunia scifi. Tapi aku tetap berharap Reverie akan mendapat sedikit spotlight dari pada sekedar dunia tempelan yang sekedar muncul sesaat, dibaca, dan kemudian diabaikan. Seperti sebuah adegan ketika Aria melakukan skala vokal untuk meredakan sakit kepalanya. Maaf… tapi apa itu skala vokal? Kenapa tidak ada penjelasan untuk ini? Apa skala vokal dalam cerita ini sama dengan skala vokal yang sebenarnya? Mengucapkan vokal A-I-U-E-O (dsb.) dalam latihan bernyanyi? Jika iya, apakah skala vokal yang dilakukan dalam hati bisa meredakan sakit kepala?

“Aria melakukan latihan skala vokal dalam hati, berusaha melawan nada-nada tinggi sakit kepalanya. Skala vokal selalu membuatnya tenang.” (hal. 94)

capture-20160308-115917Oke, tinggalkan skala vokal. Kritik berikutnya adalah inkonsistensi penulis dalam menggunakan istilah (kata). Ini kesalahan penulis atau penerjemah, aku tak tahu. Beberapa kali aku menemukan Perry disebut sebagai Orang Liar, kemudian beberapa halaman berikutnya ia disebut Orang Luar. Tidak hanya itu, tempat tujuan Perry dan Aria awalnya disebut sebagai Gunung Panah, tak lama setelah mereka mencapainya, namanya berubah menjadi Gunung Arrow. Menyebalkan.

Sungguh sangat disayangkan karena karakter-karakter dalam buku ini sangatlah menarik. Perry yang sanggup mencium emosi seseorang, Roar yang memiliki pendengaran tajam, serta Aria dan Cinder yang juga tak kalah uniknya. Aku berharap di buku berikutnya Veronica Rossi akan mengisi karakternya dengan beragam emosi. Bukan hanya marah, bahagia, dan takut. Aku masih menunggu kejutan-kejutan berikutnya.

Advertisements