Tags

,

  • Judul: Harry Potter and The Order of the Phoenix
  • Penulis: J.K. Rowling
  • Penerbit: GPU
  • Penerjemah: Listiana Srisanti
  • Jumlah Halaman: 1200 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

 

LASKAR DUMBLEDORE

Tak diragukan lagi tahun kelima Harry Potter bersekolah di Hogwarts merupakan tahun yang sangat penting. Kini ia berusia lima belas tahun, dan sebagai remaja ia mengalami gejolak masa muda yang mengubah bebarapa sifat dasarnya. Ia akan menjalani ujian OWL yang menegangkan, yang menentukan akan jadi apa dirinya setelah lulus. Ia sering sekali bertengkar dengan Cho, sehingga bukan tidak mungkin hubungan mereka putus. Dan ketika ia berkelahi dengan Draco Malfoy, peranannya sebagai Seeker tim Quidditch Gryffindor terancam. Semua ini membuat Harry begitu nelangsa, sehingga untuk pertama kalinya ia ingin sekali meninggalkan Hogwarts.

Di tengah semua kegalauan itu, Lord Voldemort dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa terus-menerus menghantui Harry. Tanpa henti Pangeran Kegelapan menyiksanya melalui bekas lukanya, dan akhirnya memaksa Harry bertarung mati-matian melawan para Pelahap Maut. Dan puncaknya adalah ia harus menyaksikan kematian seseorang yang amat dicintainya…

– – –

Liburan musim panas Harry benar-benar sangat buruk. Belum cukup menerima perlakuan buruk dari keluarga Dursley, Harry harus menghadapi sidang kementrian setelah terpaksa melakukan sihir Patronus di depan Muggle. Itu belum seberapa, kekesalannya semakin menjadi setelah tahu ternyata selama ini teman-temannya berkumpul dan tak ada satupun yang memberinya kabar. Dan untuk melengkapi penderitaan itu, Dumbledore kini menghindari Harry, berkali-kali menghindari tatapan matanya dan mengabaikan panggilan Harry.

Saat masuk sekolah kembali, satu lagi masalah yang membuat Harry semakin uring-uringan dan sering marah. Kementrian telah ikut campur dalam pengelolaan Hogwarts. Seorang perempuan licik bermuka mirip kodok tampaknya berambisi untuk mengambil alih jawabatan Dumbledore selaku kepala sekolah. Ia menerapkan aturan yang sangat ketat, mencampuri urusan guru-guru, hingga mengubah kurikulum Hogwarts. Seakan itu belum cukup, Voldemort semakin sering menyiksa Harry dengan mimpi-mimpi buruk. Puncaknya, sebuah mimpi membuat Harry dan orang terkdekatnya menyadari adanya koneksi antara Harry dan Voldemort. Harry pun mulai meragukan dirinya sendiri.

Buku ini menjadi buku tertebal yang kubaca sejauh ini. 1200 halaman berisi konflik pelik Harry dengan kementrian, Harry dengan teman-temannya, Harry dengan Dumbledore, Harry dengan Voldemort, dan Harry dengan dirinya sendiri. Sebagai pemuja konflik emosi, aku benar-benar merasa dimanjakan selama membaca buku super tebal ini. Tak ada satu halaman pun yang membuatku bosan. Hasilnya, aku hanya menghabiskan waktu dua hari untuk membacanya.

DSC_1242

Aura anak-anak dari buku pertama hingga empat benar-benar menghilang. Sepanjang membaca, kesan ‘gelap’ dari kisah ini sangat kental. Sekali lagi, aku sangat menikmatinya. Aku sudah menunggu momen-momen seperti ini sebenarnya. Bukan tanpa alasan tentunya. Sejak buku ketiga sampai keempat aku sudah merasa sangat gemas, berkali-kali Harry terlibat masalah yang nyaris mengancam nyawanya, dan dia masih bisa tertawa-tawa seolah itu kejadian kecil. Dan akhirnya, rasa greget itu dibayar lunas di buku lima ini. Harry meledak.

Emosi pembaca sudah diuji sejak awal buku ini, namun puncaknya ada di bagian menjelang akhir buku. Saat Harry kehilangan salah satu orang yang sangat dicintainya. Rasa sakit yang dialaminya membuatnya meledak dan putus asa.


“Kalau begitu, saya tidak mau jadi manusia!”

– Harry Potter (hal. 1136) –


Namun bukan Dumbledore namanya jika tak sanggup membuat Harry tenang dengan nasihat-nasihatnya. Setelah dibuat patah hati bersama Harry Potter, JKR membawa kita pada rahasia demi rahasia yang masih tersembunyi sejak buku pertama.


“Anak muda tidak bisa tahu bagaimana orang tua berpikir dan merasa. Tetapi orang tua salah kalau mereka melupakan bagaimana rasanya menjadi orang muda…”

– Dumbledore (hal. 1140) –

“Ketidakacuhan dan pengabaian sering kali berakibat lebih buruk daripada ketidaksenangan yang terus terang…”

-Dumbledore (hal. 1150)

“Aku lebih peduli pada kebahagianmu daripada perlunya kau mengetahui kebenaran”

– Dumbledore (hal. 1157) –


Melihat usaha Dumbledore untuk menjelaskan segalanya pada Harry benar-benar membuat hati siapapun hancur. Aku tidak menyangkal harus berhenti beberapa menit untuk menenangkan diri setelah menangis. Benar-benar buku yang brilian!

Advertisements