Tags

,

  • Judul: Harry Potter and The Goblet of Fire
  • Penulis: J.K. Rowling
  • Penerbit: GPU
  • Penerjemah: Listiana Srisanti
  • Jumlah Halaman: 882 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

PIALA DUNIA DAN TURNAMEN TRIWIZARD

Tahun ini akan berlangsung Piala Dunia Quidditch. Harry ingin sekali menontonnya, tetapi akankah keluarga Dursley mengizinkannya? Tahun ini Hogwarts juga akan menjadi tuan rumah turnamen sihir yang sudah lebih dari seratus tahun tak pernah diadakan. Tahun ini, Harry yang beranjak remaja, juga mulai naksir cewek. Siapakah cewek beruntung yang kejatuhan cinta penyihir dan Seeker beken ini? Tapi tak semua yang dialami Harry peristiwa hura-hura. Karena mendadak bekas luka di keningnya terasa sakit sekali. Dan di langit malam, muncul tanda kegelapan, tanda yang menyatakan bangkitnya Lord Voldemort. Dan itu baru permulaan.

Wujud Lord Voldemort akan kembali sempurna bila berhasil mendapatkan darah musuh besarnya, Harry Potter. Dan dengan bantuan abdinya yang setia, Lord Voldemort menculik Harry.

Akhirnya, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun, Harry berhadapan langsung dengan musuh besarnya. Dan tak terhindarkan lagi, keduanya berduel…

Voldemort punya rencana untuk bangkit kembali. Setelah berkali-kali usahanya digagalkan oleh Harry, kali ini menyusun sebuah rencana baru agar bisa mendapatkan tubuh yang utuh. Seorang penjaga rumah keluarga Riddle adalah korban pertamanya setelah kedua orang tua Harry. Ini adalah pertanda awal jika Voldemort mulai bergerak.

Sementara itu, Harry sedang menikmati sisa liburan musim panasnya bersama Hermione dan keluarga Weasley yang lain dengan menonton Piala Dunia Quidditch. Dengan menggunakan portkey (alat untuk berteleportasi) mereka pindah dari The Burrow ke sebuah lahan perkemahan yang sangat luas, tempat perhelatan akbar Piala Dunia. Segala kesenangan itu berlangsung sampai akhir pertandingan. Saat mereka tiba kembali di tenda, sebuah kekacauan terjadi. Beberapa muggle dan penyihir yang menonton pertandingan di serang oleh Pelahap Maut, pengikut setia Voldemort. Dan puncak dari itu semua adalah munculnya tanda kegelapan. Sebuah tanda yang menyatakan bangkitnya Voldemort.

Kurasa The Goblet of Fire adalah buku penanda peralihan masa anak-anak Harry ke remaja. Cerita yang disuguhkan jauh lebih menantang dengan plot yang kompleks. Hasilnya, buku ini punya ketebalan mencapai 882 halaman.

Selain Harry yang sudah mulai menyukai gadis ‘kakak kelas’nya, indra-indranya juga semakin tajam. Berkali-kali pembaca dibawa masuk ke dalam mimpi-mimpi yang dilihat Harry. Bukan mimpi biasa, namun mimpi yang berkaitan dengan Voldemort. Mimpi yang selalu membuat bekas lukanya berdenyut, sekaligus tanda bahwa Voldemort berada dekat dengan Harry. Tak hanya Harry, Ron dan Hermione juga telah menginjak masa remaja. Ada cinta segitiga dalam kisah persahabatan mereka.

DSC_1241

The Goblet of Fire sangat berwarna. Kisah cinta khas remaja membuat beberapa bagian terasa manis. Lucu saat Harry dan Ron berusaha mencari pasangan untuk pesta dansa. Bahkan Ron menyarankan Harry untuk melaso salah satunya (lol). Lalu berubah menegangkan saat turnamen Triwizard, dan menjadi gelap saat duel antara Harry dan Voldemort.

Tak banyak yang bisa kukomentari mengenai buku keempat karena sejauh ini, buku keempat menjadi buku favoritku. Kekurangannya hanyalah beberapa kata tidak baku yang berulang-ulang dipakai sejak buku pertama. Ini tentu kritikan untuk penerjemah dan editor. Kata baku itu antara lain, ‘separo’ dan ‘menjeblak’. Kesalahan ini bahkan masih sering dijumpai hingga sekarang. Masih banyak novel yang saya temukan menggunakan kata ini. Padahal jika mengecek kamus, kata ‘menjeblak’ tidak ada.

Sekali lagi, sebagai penutup review, ada pesan dari Profesor Dumbledore…


“Keingintahuan bukanlah dosa. Tapi kita harus berhati-hati dengan keingintahuan kita” (hal. 719)


 

Advertisements