• Judul: Harry Potter and The Deathly Hallows
  • Penulis: J.K. Rowling
  • Penerbit: GPU
  • Penerjemah: Listiana Srisanti
  • Jumlah Halaman: 999 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

 

PERTEMPURAN TERAKHIR

Dedikasi buku ini terbagi menjadi tujuh.

Untuk Neil. Untuk Jessica. Untuk David. Untuk Kenzie. Untuk DI. Untuk Anne

Dan Untukmu.

Jika kau bertahan setia kepada Harry sampai saat paling akhir.

Karena seri ketujuh tak menyertakan sinopsis di belakang buku, aku mengutip halaman dedikasi JKR. Khusus untuk dedikasi yang terakhir, aku merinding sekaligus ingin menangis. Karya ini sangat luar biasa, hingga aku berani jamin, tak ada yang sanggup mengatakan benci atau tidak suka jika sudah mengikuti petualangan Harry sejak awal hingga akhir.

Sebentar lagi Harry menginjak tujuh belas tahun. Itu artinya, untuk menggunakan sihir, Harry masih meninggalkan jejak yang bisa dilacak Kementrian. Untuk itu, demi keamanan Harry menuju The Burrow, Mad Eye ‘membuat’ Harry-Harry palsu demi mengecoh Pelahap Maut yang bisa saja datang menyerang dalam perjalanan mereka.

Sebelum meninggalkan Privet Drive, Harry melakukan napak tilas di dalam rumah bersama burung Hantunya, Hedwig. Mulai bagian ini aku tak henti-hentinya merinding karena teringat kembali bagaimana awal hidup Harry dalam keluarga Dursley, bagaimana mereka memperlakukannya, dan bagaimana akhirnya mereka harus pindah demi keamanan mereka.

Saat Harry berhenti di depan lemari di bawah tangga, aku mulai nyesek.


“Di bawah sini, Hedwig. Di sinilah dulu aku tidur! Kau belum kenal aku waktu itu. Ya ampun, kecil sekali, aku sudah lupa…”

– Harry Potter (hal. 66)-


DSC_1245Itu barulah awal dari serangkaian kalimat-kalimat yang bikin ngilu hati. Setelah berkali-kali nyaris mati, Harry mulai sadar akan berbahayanya situasi yang akan dihadapinya. Lagi-lagi ia membuat keputusan yang bikin hati mencelos.

“Masa depan Ginny bebas dan tanpa beban, sedangkan masa depannya… dia tak bisa melihat apapun selain Voldemort di depannya” (hal. 163)

 

Tak ada kritikan yang bisa kuungkap di buku terakhir ini. Selain karena memang tak ada celah, buku ke 7 adalah buku dengan konflik terpadat diantara semua seri Harry Potter. Karena ini buku terakhir, sejak membuka halaman awal kita sudah disuguhkan dengan aksi pembunuhan yang dilakukan Voldemort. Lalu bab-bab berikut kita dibawa untuk mengenal lebih jauh sosok Dumbledore dan apa itu relikui kematian.

Banyak fakta mengejukkan yang berangkat dari masa lalu Harry. Dan yang paling bikin mind blown adalah fakta tentang Snape. Percakapannya dengan Dumbledore yang dilihat Harry melalui Pensive sekali lagi membuatku menitikkan air mata.


“Setelah sekian lama ini?”

“SELALU,” kata Snape (hal. 905)


Akhirnya, fakta demi fakta yang terungkap seluruhnya membawa Harry kepada pertempuran terakhirnya dengan Voldemort. Mulai saat Harry menyadari apa sebenarnya tujuan hidupnya aku sudah tak berhenti lagi menangis hingga di buku terakhir. Saat Harry mengetahui tugasnya dan berjalan ke hutan terlarang untuk menghadapi Voldemort adalah momen paling emosional dalam buku ini.


“Semuanya sudah berakhir, dia tahu itu, dan yang tersisa hanyalah kematian itu sendiri.” (hal. 911)


Saat tiba di halaman akhir buku ini dan membaca kata terakhirnya, butuh waktu lama bagiku untuk meletakkan buku ini. Aku rasa semua orang yang membaca serial Harry Potter dari awal sampai akhir juga mengalami hal yang sama. ‘Benar-benar sudah berakhir…’ itulah kalimat yang akan muncul di benak kita masing-masing.

Mengikuti petualangan Harry sejak berumur sebelas hingga tuju belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Beruntung aku bisa menyelesaikan buku ini dalam rentang waktu lima belas hari. Tapi yang mengikuti buku ini sejak pertama kali terbit butuh waktu bertahun-tahun untuk menamatkannya. Mereka tumbuh dewasa bersama Harry. Oleh karena itu, saat buku ini benar-benar berakhir, tidak heran jika banyak yang tidak sanggup menahan kesedihan.

Benar-benar sebuah mahakarya. Bahkan setelah film terakhir rilis empat tahun lalu, fans Harry Potter masih tetap membahas kisah ini. Bagi kami fans setia, kisah Harry Potter tak pernah berakhir. Karena tiap kami membuka bukunya, Hogwarts akan selalu menyambut kami dengan sihir-sihirnya yang menakjubkan.

Akhirnya, untuk menutup review final Harry Potter ini, aku kembali mengutip kalimat Dumbledore.


“…mereka yang paling cocok untuk kekuasaan adalah mereka yang tak pernah mencarinya.”

– Dumbledore (hal. 946) –


 

Advertisements