49116

  • Judul: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (Harry Potter #3)
  • Penulis: J. K. Rowling
  • Penerjemah: Listiana Srisanti
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 544 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

Selama dua belas tahun, penjara sihir Azkaban yang mengerikan mengurung tawanan berbahaya bernama Sirius Black. Black yang ditahan karena membunuh tiga belas orang dalam satu kutukan , dikabarkan sebagai putera mahkota si Pangeran Kegelapan, Voldemort.

Sekarang Black berasil kabur. Hanya ada dua petunjuk untuk memperkirakan ke mana akhirnya tujuannya: Keberhasilan Harry Poter mengalahkan Voldemort berarti kejatuhan Black juga. Dan para pengawal Azkaban yang sering mendengar Black mengigau dalam tidurnya. “Dia di Hogwarts… dia di Hogwarts.”

Harry Potter tidak aman, bahkan sekalipun dia berada dalam perlindungan dinding kastil sekolah sihirnya, dan dikelilingi oleh teman-temannya. Karena… mungkin saja ada penghianat di antara mereka?

– – –

Sekali lagi Harry Potter menerima perlakuan tak menyenangkan dari keluarga Dursley di liburan musim panasnya. Pederitaan itu belum seberapa setelah Bibi Marge datang dan punya hobi baru, menghina orang tua Harry. Harry telah berjanji pada pamannya untuk bersikap baik agar bisa mendapatkan tanda tangan Paman Vernon untuk surat izin ke desa sihir. Hanya saja, kesabaran Harry mencapai batasnya setelah Bibi Marge untuk kesekian kalinya menghina ayah Harry.

Setelah menggembungkan Bibinya, Harry memilih meninggalkan rumah. Menyeret koper besarnya di tengah malam tanpa mempertimbangkan risikonya terlebih dahulu. Setelah akhirnya emosinya mereda, barulah Harry sadar sedang dalam masalah. Ia tak punya tempat tujuan dan tak punya uang Muggle. Uang miliknya adalah uang penyihir yang tersimpan di Gringotts, padahal liburannya masih tersisa beberapa minggu lagi.

Masalah itu belumlah seberapa dengan akibat yang akan diterima Harry setelah menggunakan sihirnya di dunia Muggle. Ia yakin benar-benar akan dikeluarkan kali ini. Di tengah keputusasaannya, hadirlah kabar bahwa tahanan top Azkaban yang terkenal sadis, Sirius Black melarikan diri. Tujuan utamanya adalah membunuh Harry Potter.

Harus kuakui, aku lebih menyukai buku ketiga ini dibanding buku pertama dan kedua. Selain karena karakter tokohnya terus berkembang, juga karena penyajian ceritanya jauh lebih kompleks. Harry tak lagi mau membiarkan keluarga Dursley terus menerus memperlakukannya tidak adil dan memilih untuk melawan. Muncul juga tokoh baru yang akan membantu Harry melalui masalahnya, yang ternyata juga berhubungan dengan masa lalunya.

Konflik buku ketiga bukan soal melawan Voldemort, tapi lebih fokus pada usaha Harry untuk melawan ketakutannya sendiri. Terjadi konflik batin dalam dirinya saat mempelajari sihir Patronus yang akan digunakannya untuk melawan mahluk sihir yang ternyata membuatnya mendengarkan suara orang tuanya. Dan di antara itu semua, hal paling menyenangkan dalam buku ketiga adalah banyaknya twist menjelang akhir cerita. Tentang rahasia Hermione, tentang anjing hitam yang katanya adalah Grim, dan burung aneh yang dinaiki Harry di cover buku.

DSC_1233

Dari segi penerjemahan juga jauh lebih baik. Tak ada lagi kalimat-kalimat membingungkan. Sandi untuk membuka pintu juga sudah tak diterjemahkan (lebih baik begitu karena kedengarannya sangat aneh). Mudah-mudahan seterusnya akan seperti ini, karena aku menyukai semua sandi maupun mantra yang diciptakan J.K. Rowling. Yang paling kusuka adalah Riddikulus, mantra untuk melawan Boggart yang seringkali mewujud menjadi ketakutan terbesar seseorang.

Lalu, seperti biasa… untuk menutup review aku akan sudah mengutip satu lagi pesan Dumbledore pada Harry di akhir buku.


“Kaupikir orang-orang yang kita cintai, yang meninggal, benar-benar meninggalkan kita? menurutmu tidakkah kita malah mengingatnya dengan lebih jelas daripada kapan pun, waktu kita dalam kesulitan besar?”

– Dumbledore (hal. 525) –


Advertisements