3

  • Judul: Harry Potter and The Sorcerer’s Stone
  • Penulis: J.K. Rowling
  • Penerbit: Sholastic
  • Jumlah Halaman: 312 hal.
  • Rating: ★★★★★

 

MAGIC DOES EXIST

Harry Potter has never played a sport while playing on a broomstick. He’s never worn a cloak of invisibility, befriended a giant, or helped hatch dragon. All Harry knows is a miserable life with the Dursleys, his horrible aunt and uncle, and their abominable som, Dudley. Harry’s room is a tiny closet at the foot of the stairs, and he hasn’t had a birthday party in eleven years.

But all that is about change when a mysterious letter arrive by owl messengger: a letter with an invitation to a wonderful place he never dreamed existed. There he finds not only friends, aerial sports, and magic around every corner, but a great destiny that’s been waiting for him… if Harry can survive the ecounter.

Harry Potter hidup penuh keprihatinan selama 10 tahun. Paman dan bibi, serta sepupunya selalu memperlakukannya dengan buruk lantaran menganggap Harry aneh. Bibinya memiliki kesan yang buruk terhadap orang tua Harry saat mereka masih hidup. Baginya, penyihir adalah orang-orang yang bertingkah aneh. Di hari ulang tahunnya yang ke 11, Harry mendapatkan sebuah surat dan undangan untuk bersekolah di sekolah penyihir Hogwarts.

Mimpi pun Harry tak pernah membayangkan akan bersekolah di sana. Tapi, bagian terbaik dari semua itu adalah, Harry tak perlu lagi tinggal bersama paman dan bibinya yang kejam. Dia akan belajar di Hogwarts, di mana orang-orang menganggapnya sebagai legenda.

Boleh dibilang aku sangat terlambat mengenal kisah Harry Potter ini. Euforianya telah berlalu bertahun-tahun silam. Namun saat memberi rating sempurna untuk buku ini di Goodreads, aku merasa antara beruntung dan tidak beruntung. Aku tidak beruntung karena terlambat membaca seri Harry Potter, namun beruntung karena aku tak perlu menunggu lama untuk lanjut membaca seri demi seri.

DSC_1137

J.K. Rowling menulis dunia sihir seolah-olah dunia itu adalah sesuatu yang nyata dan natural. Tak ada penggambaran berlebihan untuk menjelaskan benda-benda sihir demi meyakinkan pembaca jika benda itu memang ada. Ia hanya menuturkan segalanya dengan deskripsi pas sehingga kita benar-benar seperti berada di dunia sihir. Belum lagi penamaan mantra-mantra yang entah kenapa terasa sangat pas dengan fungsi mantra itu. Karena kemampuannya yang luar biasa dalam menggambarkan dunia sihir, tak heran jika banyak yang menganggap J.K. Rowling adalah penyihir yang sedang menyamar sebagi penulis.

Karakter-karakter ciptaannya hidup. Harry digambarkan dengan karakter seperti anak 11 tahun kebanyakan. Meskipun Harry memiliki sesuatu dalam dirinya yang ditakuti Voldemort, dia tetaplah anak-anak yang kegirangan saat mendapat hadiah natal. Belum lagi tingkah lucu Ron yang selalu dibully Hermione, si kembar Fred dan Goerge, dan banyak lagi karakter yang membuat buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca.

Tak banyak yang bisa kutulis di sini tanpa mengumbar pujian demi pujian untuk seri pertama Harry Potter. Itu karena baru kali ini aku menemukan buku yang benar-benar membuatku merasakan nikmatnya membaca. Tanpa sadar tahu-tahu saya sudah berada di akhir buku. Sihir itu ada, setidaknya aku mengalaminya saat membaca buku ini. Benar-benar cerita yang brilian.


“There are all kinds of courage. It takes great deal of bravery of stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends”

-Dumbledore (hal. 306) –


Advertisements