Tags

, , ,

27951429

  • Judul: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
  • Penulis: Marissa Meyer
  • Penerjemah: Yudith Listiandri
  • Penerbit: Spring
  • Jumlah Halaman: 383 hal.
  • Rating: ★★★★☆

 

CINDERELLA DALAM DUNIA SCI-FI

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengancam populasi penduduk bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android.

Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelematkan sang Pangeran dan Bumi?

– – –


“Aku sedang mencari Linh Cinder. Apa pria itu ada?”

– Pangeran Kai (halaman 12) –


Cinder sedang berada di situasi tak menyenangkan saat Pangeran Kai datang untuk memperbaiki androidnya. Sebelah kaki Cinder sudah berkarat dan terpaksa harus dilepas untuk mencari gantinya. Oleh karena itu, ia hanya duduk di belakang meja sambil berharap Pangeran tak menyadari identitasnya sebagai cyborg. Sementara itu, ibu dan kedua saudari tirinya sedang sibuk menyiapkan gaun yang akan mereka pakai ke pesta dansa. Semua tampak masih normal-normal saja sampai sebuah wabah terdeteksi di salah satu pemilik stan, dekat dari stan milik Cinder. Wabah itu bernama Letumosa. Belum ditemukan obatnya. Keadaan menjadi semakin tak terkendali setelah tanpa sadar Cinder melibatkan dirinya dalam perang dingin antara Bumi dan Bulan.

Mengambil latar waktu pasca perang dunia keempat, kisah Cinderella ini telah mendapat banyak perombakan disana-sini. Dunia dengan masa di mana mobil tak lagi melaju di jalan raya, melainkan terbang. Meskipun masih tetap mengadopsi cerita lama ‘ibu tiri yang kejam’, ‘pesta dansa’, dan ‘pangeran tampan’, Cinder sesungguhnya adalah kisah usaha manusia dalam mempertahankan bumi agar tak dikendalikan oleh Ratu Bulan.

Buku ini telah menjadi perbincangan ramai tak lama setelah diterbitkan. Tentu saja alasannya karena si penulis, Marrissa Meyer, mengadopsi kisah klasik Cinderella ke dalam novelnya. Bukan Cinderella yang anggun namun seorang cyborg mekanik dengan tangan dan kaki pengganti dari robot. Untuk menghidupkan dunia pasca perang ciptaannya, Marissa cukup berhasil dengan memunculkan mobil terbang, chip identitas, netscreen dan portscreen. Segala teknologi itu benar-benar membantuku dalam memvisualisasikan kecanggihan teknologi dunia New Beijing. Belum lagi aura misterius yang selalu dihadirkan orang-orang bulan. Aku benar-benar bergidik saat mengetahui mereka punya kemampuan untuk memanipulasi pikiran orang.

Belum lagi fakta bahwa di dunia itu, cyborg ternyata memiliki ‘kasta’ yang rendah. Mereka ‘diharapkan’ untuk menjadi relawan dalam penelitian vaksin Letumosis. Cinder merasa hidupnya benar-benar tak dihargai, bahkan setelah para ilmuan memberinya ‘kehidupan kedua’. Perlakuan ibu tirinya pun sama mengerikannya, bikin naik darah.


“Kau bukan bagian dari keluarga ini. Kau bahkan bukan manusia lagi”

– Adri (halaman 273) –


Hanya saja, keberhasilan Marissa dalam menciptakan dunia khayalan tidak diikuti oleh kemampuannya menciptakan karakter. Cinder, sang tokoh utama tidak memiliki karakter kuat yang mudah diingat selain fakta bahwa dia adalah cyborg. Dia seringkali terjebak dalam pikirannya sendiri dan bingung dalam waktu yang lama. Berkali-kali harus kalah dalam adu argumen karena merasa dirinya ‘rendah’. Ini membuatku kesal.

Karakter kedua yang harusnya menonjol adalah Pangeran Kai. Namun sekali lagi patut disayangkan karena ‘hawa keberadaan’ Pangeran Kai terasa begitu tipis. Aku tak bisa membayangkan bentuk wajahnya selain poni yang selalu menjuntai. Sifatnya pun terbilang naif untuk menjadi seorang pemimpin Persemakmuran. Beberapa kali ia asal ceplos dalam mengutarakan isi hatinya, entah di hadapan sekutu maupun musuh. Itu belum seberapa dibanding kebiasannya berbagi rahasia negara pada Cinder. Pangeran Kai begitu lugu hingga bisa memercayai orang dengan mudahnya.

Karakter yang kusuka justru Levana. Bukan karena sifatnya, melainkan sosoknya terasa jauh lebih menonjol dari yang lain. Hawa keberadaannya pun sangat kuat. Cukup kuat untuk membuatku merinding.

CSC_1117

Tapi diluar kekurangan yang sudah kusebutkan, Cinder adalah salah satu buku yang wajib dibaca pecinta genre fantasi sci-fi. Marissa cukup lihai dalam menjabarkan komponen-komponen mesin, dan itu menjadi nilai tambah tersendiri.

Aku masih ingat euforia yang kurasakan begitu tahu novel ini akan diterbitkan oleh Penerbit Spring. Dan itu terus berlanjut saat tahu mereka mempertahankan 95% desain asli sampulnya. Aku selalu suka hasil terjemahan penerbit ini. Selain karena tatanan bahasanya yang rapi, juga karena penerjemah tak pernah lupa mencantumkan footnote untuk istilah-istilah tertentu. Aku hanya menemukan dua typo, ‘Levan’ di halaman 140, dan ‘seseroang’ di halaman 169. Bisa dimaklumi karena editor pasti bekerja dalam deadline yang ketat mengingat seri buku ini akan terbit tiap bulan berturut-turut.

Jadi, untuk keseruan dunia Cinder buku ini layak diberikan 4 bintang. Semoga seri kedua yang berjudul Scarlet segera diterbitkan karena aku sudah sangat penasaran dengan kelanjutan kisah cyborg yang satu ini.

Advertisements