Tags

,

27424207

  • Judul: Frankenstein
  • Penulis: Mary Shelley
  • Penerjemah: Reinitha Lesmana
  • Penerbit: Qanita
  • Jumlah Halaman: 316 hal.
  • My Rating: ★★★★☆

 

KISAH TRAGIS YANG MENGURAIKAN HAKIKAT MANUSIA

Terobsesi dengan asal muasal kehidupan, seorang ilmuan bernama Victor Frankenstein mencari cara untuk memberi nyawa pada benda mati. Pemuda cerdas ini menciptakan manusia dari potongan-potongan mayat yang dia curi. Namun diluar dugaan, mahluk itu bukan manusia, melainkan monster! Didorong rasa takut dan benci, Frankenstein meninggalkan monster itu sendirian.

Sang monster merasa kesepian dan tersiksa, dikucilkan manusia dan ditelantarkan penciptanya. Hatinya yang polos menjadi jahat dan penuh amarah. Dia bertekad membalas dendam kepada Frankenstein dengan cara membunuh semua orang yang ia sayangi.

Selama lebih dari seabad, Frankenstein telah menginspirasi banyak film, acara televisi, video game, komik, dan karya-karya lainnya. Monster Frankenstein telah menjadi salah satu ikon terkenal dalam fiksi horor.

– – –

Frankenstein sebenarnya adalah nama penciptanya. Di dalam buku sama sekali tak pernah di sebutkan siapa nama monster ini. Sejak awal dia diciptakan, Frankenstein tak pernah memberinya nama hingga monster ciptaannya berkeliaran dan membunuh orang-orang. (Oleh karena itu, selanjutnya aku akan menyebut si monster sebagai Frankenstein, dan penciptanya dengan Victor)


Aku mampu menghidupkan benda tak bernyawa (Victor hal. 63)


 

Sebelum membaca novel ini, anggapan awalku tentang Frankenstein adalah sosok yang lucu, polos, dan penuh kasih. Tubuhnya tinggi besar dengan baut di kepala dan berambut pendek. Sebenarnya gambaran itu tidak sepenuhnya salah, karena Frankenstein yang sebenarnya memang memiliki hati yang lembut. Hanya saja gambaran fisiknya jauh berbeda dari bayanganku selama ini. Selama membaca buku, entah mengapa sosok Frankenstein selalu kubayangkan berkeliaran dengan rambut panjang dan gaun putih, mirip kuntilanak (maafkan imajinasiku yang payah ini).

Ada beberapa hal yang ingin aku soroti perihal buku ini, utamanya gaya penulisan. Meskipun ini novel terjemahan, kesan sastra klasik tetap melekat erat. Gaya bertutur Mary yang hampir seluruh ceritanya berupa narasi tak membuatku bosan membaca. Bahasanya indah dan mengalir. Meskipun dijelaskan Victor berurusan dengan mayat-mayat demi menciptakan Frankenstein, aku sedikitpun tak pernah merasa jijik berkat diksinya yang kaya.


Bahkan kerap kali, aku masih sibuk di laboratoriumku manakala bintang-bintang punah ditelan cahaya fajar (Victor hal. 60)


 

DSC_1084

Melalui Frankenstein, Mary ingin menyampaikan pesan bahwa seburuk apapun tabiat seseorang, pada awalnya dia tetaplah manusia yang tak tahu apa-apa. Kebencian lahir karena lingkungan. Frankenstein pun demikian. Pada awalnya ia hanyalah sosok manusia buruk rupa berhati polos. Ia tak mengenal rasa benci. Bahkan setelah dicampakkan penciptanya, ia tetap menaruh rasa cinta pada manusia. Ia mudah tersentuh oleh tutur kata yang baik. Namun hatinya yang bersih perlahan-lahan menghitam akibat perlakuan buruk manusia. Tak ada yang bersedia menerimanya, bahkan hanya sekedar mendengarkannya, karena rupanya yang buruk.

Diliputi rasa benci dan derita akibat penolakan manusia dan oleh penciptanya sendiri, ia membunuh orang-orang terdekat Victor untuk membalas dendam.


Jika demikian, benarkah aku ini monster? Setitik noda di muka bumi? Mahluk yang dihindari dan ditolak oleh semua insan? (Frankenstein hal. 163)

Sukacita kuanggap sebagai cemooh terhadap hidupku yang celaka, dan aku semakin sadar, bahwa aku tercipta bukan untuk mengecap kesenangan. (Frankenstein hal. 194)

Indra manusia adalah tembok penghalang yang tak dapat dilampaui (Frankenstein hal. 199)


Berkat penggunaan sudut pandang pertama, aku bisa memahami perasaan kedua tokoh utama novel ini, Victor dan Frankenstein. Alasan Victor menolak ciptaannya sendiri dan alasan Frankenstein membalas dendam. Besarnya penderitaan yang diterima Frankenstein akibat penolakan terhadap kebaradaannya membuatku ingin menitikkan air mata. Benar-benar sebuah novel yang menggugah sisi kemanusiaan kita.


Menurutku, seorang manusia tak bisa menyebut dirinya bahagia apabila dia tak dikaruniai sahabat yang sehati sejiwa. (Robert Walton hal. 29)


Advertisements