Tags

, ,

pointofretreat

  • Judul: Point of Retreat
  • Penulis: Colleen Hoover
  • Penerjemah: Shandy Tan
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 352 hal.

 

TITIK MUNDUR, SAAT CINTA MEMINTA JARAK

Berhasil melewati guncangan kematian, patah hati, dan belitan takdir, membuat Layken dan Will yakin hubungan mereka akan baik-baik saja. Tetapi kejadian tak terduga menghancurkan segala harapan hingga memaksa mereka untuk mundur dan berpikir ulang tentang komitmen. Layken dan Will terpaksa memilih jalan sulit dan menyakitkan… mereka harus berpisah.

Will tidak rela melepaskan Layken begitu saja. Ia bertekad membuktikan kesungguhan cintanya dengan satu-satunya cara yang ia yakini dapat merebut kembali hati Layken… dengan puisi. Saat keadaan mulai membaik, cobaan lebih besar datang, cobaan yang tidak hanya bisa mengubah kehidupan mereka, tetapi juga orang-orang yang bergantung pada mereka. Kali ini, bahkan puisi pun tak bisa mengembalikan Layken dalam hidup Will.

Judul buku ini sungguh sangat menggambarkan isinya. Jika di Slammed diceritakan usaha Layken untuk menemukan celah agar bisa bersama Will, maka di Point of Retreat Layken justru menciptakan celah itu diantara mereka.

Saya sempat dibuat kesal oleh alur cerita yang mengalami kemunduran. Kenapa justru masalah yang sebenarnya sepele menjadi poin utama penyebab masalah di seri kedua Slammed ini. Saya pun tak bisa menahan diri untu bertanya, apa benar ini pantas menjadi penerus Slammed yang brilian itu?

Jawabannya, tentu saja.


Aku ingin memiliki teman-teman yang bisa kupercaya yang menyayangiku karena sosok diriku saat ini… bukan diriku di masa lalu.

– Kutipan Lagu The Avett Brothers (hal. 215)


Masalah Will dan Layken kali ini bukan lagi berpusat pada diri mereka berdua saja. Kemunculan tokoh-tokoh baru seperti Reece, Vaughn, Sherry, dan Kiersten ikut mengambil peran dalam hubungan Will dan Layken. Khusus untuk Kiersten, gadis 11 tahun itu membawa warna tersendiri berkat kejeniusannya mengubah ‘kupu-kupu’ menjadi umpatan. Saya berkali-kali tertawa saat tokoh-tokoh dalam novel ini menggunakan umpatan itu untuk saling memaki. Berkat ini saya percaya Coho bisa melawak juga (terlepas dari aksi randomnya di Instagram, lol).

Dan bukan Coho namanya jika tidak menyebar banyak sihir dalam tiap tulisannya. Di pertengahan buku saya sudah cemas, di mana sihir-sihir itu. Pasti ada di suatu tempat, pasti akan muncul dan membuat kisah cinta romantis ini porak poranda. Seolah tahu yang kutakutkan (sekaligus yang kuinginkan), sihir itu pun muncul…


Saya jatuh cinta padamu pagi itu

Karena dirimu

– Kutipan puisi Will yang berjudul Karena Dirimu (hal. 221)


DSC_0739

foto koleksi pribadi

Pertunjukkan slam Will kembali menjadi salah satu momen terbaik dalam novel ini. Saya tidak bisa menghitung berapa kali saya dibuat merinding dan berkaca-kaca saat meresapi kata demi kata yang Will tuturkan untuk Layken.

Dan momen terbaik lainnya adalah saat Kiersten membagikan kupu-kupu pada beberapa orang sambil membacakan puisinya.


Kupu-kupulah kau, Mark.

Kupu-kupulah kau, Brendan.

Kupu-kupulah kau, Colby.

– Kutipan puisi Kiersten yang berjudul Kupu-kupulah Kau (hal. 325)


Selain puisi-puisi dan karakter Kiersten yang unik, tak banyak yang bisa saya ulas (karena pada akhirnya saya akan membanjiri review ini dengan pujian).

Buku ini memberi pesan yang dalam bahwa setiap hubungan pasti akan mengalami sebuah kemunduran hingga membuat kita berpikir kembali, apakah semua memang sudah berada di tempatnya, atau tidak. Tidak apa-apa jika kita mengambil jarak dan mempertanyakan segala hal. Karena (kata Kiersten) dengan bertanya kita akan menemukan fakta

Terkadang dua orang harus berpisah dulu untuk menyadari betapa mereka butuh untuk bersatu kembali (hal. 225)

Karena telah membuatku sempat kesal, kemudian membuatku jatuh cinta, patah hati, lalu jatuh cinta kembali pada ceritanya, 5 BINTANG UNTUK POINT OF RETREAT.

Advertisements