Tags

, , , ,

slammed

  • Judul: Slammed
  • Penulis: Colleen Hoover
  • Penerjemah: Shandy Tan
  • Penerbit: GPU
  • Jumlah Halaman: 336 hal.

TENTANG KEMATIAN, HIDUP, CINTA, DAN PUISI

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaanya pada slams – pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah…

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka.

– – –

Layken (18 tahun) terpaksa harus pindah ke Michigan mengikuti ibunya demi sebuah hidup baru. Layken benci hal itu, karena rumahnya di Texas memiliki banyak kenangan bersama ayahnya. Namun rasa benci itu tak bertahan lama setelah pertemuannya dengan Will (21 tahun). Pria itu sudah menarik perhatian Layken dipertemuan pertama mereka. Ditambah lagi Kal dan Caulder, adik Layken dan Will tiba-tiba saja telah menjadi akrab. Di rumah baru itu akhirnya Layken menemukan kembali hidupnya.

Di sinopsis kita sudah mendapat ‘peringatan’ bahwa ini bukan kisah cinta yang berjalan mulus. Perasaan suka sama suka belum tentu akan berakhir dalam suatu hubungan cinta. Pekerjaan Will tak memungkinkan hubungan mereka untuk berlanjut lebih serius. Hanya satu kali kencan, dan semua berakhir.


Ada lima tahap yang dilewati orang yang berduka setelah ditinggal mati orang yang dikasihinya: penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

-Kutipan pernyataan Elizabeth Kubler Ross (hal. 140)


Namu ternyata tak hanya sekali Layken harus melewati kelima tahap itu. Kematian bukan hanya satu-satunya penyebab duka. Jika kematian ayahnya mengajarkan Layken untuk menjadi kuat, maka hancurnya hubungannya dengan Will mengajarkan Layken untuk hidup.


Kematian. Satu-satunya hal yang tak terhindarkan dalam hidup…

– Kutipan puisi Will yang berjudul Kematian (Hal. 61)


Membaca novel ini memberi banyak pengalaman baru bagi saya. Utamanya dalam mengenal puisi. Puisi-puisi dalam novel ini tak disusun dengan bahasa puitis. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah seperti ini puisi di Amerika? Ataukah semata-mata karena ini bentuk terjemahan?

Tapi percayalah, hal itu sama sekali tidak mengurangi keindahan puisi yang ada di Slammed. Susunannya lebih mirip bercerita namun dengan rima dan diksi yang solid. Jika bisa diibaratkan dengan hal lain, maka puisi ini lebih menyerupai cerita pedek yang disusun dalam larik-larik.

Dari novel-novel Coho yang pernah saya baca sebelumnya, saya mengetahui bahwa ia menyuguhkan kisah cinta yang romantis melalui kalimat-kalimat yang diucapkan tokohnya. Dan Slammed sekali lagi membuktikan kemampuan Coho dalam menyusun kata-kata yang romantis. Untuk puisi-puisi itu saya ingin memberi 5 bintang.

Hanya saja, emosi yang saya rasakan saat membaca Slammed tidak separah dengan karya-karya Coho yang lain sebelum ini. Perasaan saya tidak diaduk-aduk, hal yang selalu saya nantikan saat membaca halaman demi halaman novelnya. Meskipun ya! Akan selalu ada sihir (Sebutan saya untuk menggambarkan kemampuan Coho dalam membuat twist) yang membuat pembacanya shock, hehehe.Tapi itu tidak membuat saya kecewa, karena sekali lagi, puisi-puisinya sangat indah.

Karakter Layken yang selalu berusaha bangkit begitu cobaan datang menjatuhkannya, adalah salah satu yang menguatkan cerita ini. Jangan harap akan menemukan gadis cengeng yang meratap-ratap dengan mata bengkak dalam novel ini. Semudah ia jatuh, semudah itu pula ia bangkit dan melawan.


Lampauilah keterbatasanmu. Keterbatasan itu ada untuk dilampaui.

– Julia (Hal. 332)


DSC_0735

foto koleksi pribadi

Begitupula dengan Will yang selalu menempatkan pekerjaan dan adiknya sebagai prioritas utama. Dalam hal karakter, tokoh-tokoh Slammed terasa jauh lebih nyata dan hidup dibanding tokoh dalam novel Coho sebelumnya. Karakternya lebih realistis.

Lalu entah karena novel ini telah direncanakan untuk mendapatkan sekuel, maka eksekusi endingnya terasa kurang nancep. Setelah beragam konflik emosi yang melibatkan Layken, ibunya, dan Will (yang sempat membuat mata saya berkaca-kaca) kisah ini ditutup begitu saja dengan sebuah rekonsiliasi. Tapi karena mengingat konfliknya pun tidak berat-berat amat, maka penyelesaiannya pun tak perlu menguras banyak emosi.

4 BINTANG UNTUK SLAMMED

 

 

Advertisements