Tags

, , , , , , , ,

tunnels_book_cover_01

  • Judul  :  TUNNELS
  • Penulis  :  Roderick Gordon & Briam Williams
  • Penerjemah  :  Berliani M. Nugrahani
  • Jumlah halaman  :  660 halaman
  • Penerbit  :  Mizan Fantasi

 

TUNNELS, SEBUAH DUNIA BAWAH TANAH

Will berusaha menemukan ayahnya, Dr. Burrows, yang menghilang tanpa jejak. Menjelajahi lorong-lorong purba bawah tanah, sebuah rahasia maut pun terungkap dan mengancam jiwa Will: koloni bawah tanah yang terlupakan oleh dunia atas.

Dipimpin oleh Styx, koloni itu merencanakan sebuah revolusi untuk menyerbu manusia dunia atas. Seperti apakah dunia koloni bawah tanah itu? Berhasilkah Will menemukan ayahnya, sekaligus menggagalkan upaya makar Styx dan koloni bawah tanah?

– – –

Will, remaja yang punya ketertarikan khusus terhadap penggalian. Bersama ayahnya, ia menelusuri lorong-lorong bawah tanah dengan harapan menemukan sesuatu yang besar yang akan diingat oleh dunia. Hampir setiap hari yang dilakukannya hanya menggali, membuat terowongan di bawah tanah, mencari sesuatu, dan jika berutung ia akan menemukan peninggalan abad ke-18 untuk menambah koleksi ‘museum kecil’nya.

DSC_0728

Foto jepretan sendiri untuk diposting di Instagram (@Person2805)

Suatu hari, ayah Will tiba-tiba menghilang tanpa petunjuk apapun. Will pun mengajak temannya, Chester, untuk melakukan pencarian. Mereka pun mulai menggali di tempat yang Will yakini sebagai tempat penggalian ayahnya sebelum ia menghilang. Setiap hari mereka terus menggali tanpa tahu akan mengarah pada sebuah penemuan besar yang mencengangkan. Sebuah dunia bawah tanah yang disebut Colony. Di Colony, petualangan Will dan Chester bermula. Ada banyak hal yang terjadi. Sebuah rahasia masa lalu. Pelarian dan pertemuan kembali.

Di halaman awal buku, kita akan disuguhkan ‘halaman pujian’ oleh beragam kalangan. Buku ini beberapa kali disandingkan dengan Harry Potter dalam hal petualangan yang katanya serupa. Saya belum membaca Harry Potter jadi tidak bisa membandingkan kedua buku ini. Namun karena Andrea Hirata juga memberikan pujian atas buku ini (bisa kita temukan di sampul belakang buku), maka mau tak mau saya akhirnya memiliki ekspektasi besar saat membacanya.


“Petualangan seru! Membacanya seperti menonton film.”

Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi


Untuk pendapat Andrea Hirata, saa seratus persen setuju. Penulis menggambarkan suasana gelap terowongan dengan sangat baik dan detil. Bau apak tanah, udara yang pengap, cahaya dan tipisnya oksigen, sungguh dapat saya rasakan saat membaca buku ini. Penulis sepertinya telah melakukan riset yang panjang demi menghidupkan suasana terowongan dalam Tunnels. Tak hanya suasana dalam terowongan galian yang sangat hidup. Dunia rekaan seperti Colony dan Eternal City juga terasa sangat nyata. Dibantu oleh ilustrasi yang terdapat di beberapa halaman, saya benar-benar tak menemukan kesulitan untuk membangun dunia bawah tanah dalam imajinasi saya sendiri. Gaya menulis yang Brilian!

Sayangnya, setelah begitu detil menggambarkan dunia rekaannya, penulis tak menerapkan hal serupa pada tokoh-tokohnya. Hanya berupa gambaran singkat mengenai bentuk fisik yang lagi-lagi dibantu oleh ilustrasi. Entah saya yang melewatkan atau penulis memang tak menyebutkan, saya tak tahu usia Will dan Chester berapa. Saya hanya bisa memperkirakan usianya sekitar lima belas sampai tujuh belas tahun berdasar adik Will, Rebecca yang berusia 12 tahun. Emosi yang dirasakan karakter tokoh juga kurang terasa. Bagi saya yang penggemar berat konflik emosi, ini sedikit membuat kecewa. Hanya sedikit.

Adapun Konflik Tunnels melibatkan banyak konflik fisik ketimbang konflik emosi. Ini sudah jelas karena beberapa kali Will harus berusaha meloloskan dari dari kejaran Styx, terluka, pingsan, bahkan nyaris kehilangan nyawanya. Belum lagi siksaan yang dialami Chester di penjara. Semua membuat persendianku ngilu. Belum lagi setelah kemunculan karakter seperti Cal, paman Tam, dan Imago, petualangan Will benar-benar terasa semakin seru.


“Satu ditambah satu kadang-kadang justru menjadi nol”

– Tam (Hal. 448)


Untuk sebuah novel berseri, seri pembuka ini terbilang cukup lemah. Demi membangun sebuah cerita yang menarik, sepertinya penulis mengorbankan Tunnels untuk menjadi pondasi yang kokoh. Saya mendengar banyak reviewer yang mengatakan bahwa seri selanjutnya akan jauh lebih seru. Ini terbukti saat penulis memberikan eksekusi ending yang tepat di mana Will, Chester, dan Cal telah menuju ke sebuah dunia bawah tanah yang lebih dalam untuk melanjutkan pencarian terhadap ayahnya. Sebuah dunia yang berjuluk Deeps.

DSC_0588

Foto jepretan sendiri untuk diposting di Instagram (@Person2805)

 

Penasaran? 4 bintang untuk Tunnels.

Advertisements