Tags

,

aya-horzMimpi, atau yang lebih senang kusebut dengan IMPIAN adalah sesuatu yang membuat hidup bergerak lebih dinamis. Dengan impian, hidup seseorang akan lebih bergairah karena memiliki sesuatu yang ingin dicapai.

Sejak kecil impianku adalah menjadi penulis. Melahirkan banyak buku yang bisa menginspirasi orang-orang yang membacanya. Hanya saja impian itu pernah padam. Terlupakan begitu saja dengan target-target sementara yang nyatanya sangat menyita waktu dan pikiran. Impian jadi penulis mengendap dalam angan dan nyaris terlupakan sebelum kumulai usaha untuk mewujudkannya.

Impian itu masih tetap diam sampai aku ‘bertemu’ seseorang yang ternyata bisa membangkitkannya kembali. Teman dunia mayaku yang tak pernah kutemui sebelumnya, juga adalah gadis yang punya kecintaan besar dalam dunia tulis-menulis. Akhirnya, setelah hampir empat belas tahun melupakan impian sendiri, keinginan besar untuk mewujudkannya lahir dan membuat hari-hariku selama beberapa bulan ini terasa sangat berarti. Bersama temanku, kami membuat target ‘TAHUN INI NOVEL KITA TERBIT’.

Langkah pertama yang kulakukan untuk mewujudkan impian itu adalah rajin mengikuti kompetisi menulis yang diadakan penerbit. Saat browsing internet mengenai lomba menulis, muncullah satu informasi tentang ‘Ghost Writing Competition’ yang diadakan salah satu penerbit besar. Aku dan temanku mengikuti lomba itu dengan antusias meskipun tanpa target apa-apa, karena merasa masih sangat amatir dalam hal menulis.

Tak disangka, cerpen yang kami tulis menang. Temanku terpilih sebagai pemenang favorit, dan aku mengantongi juara pertama. Sebagai hadiah dari keikutsertaan kami dalam kompetisi itu, penerbit akan menerbitkan cerita kami dan memasukkannya dalam antologi cerpen horror bersama partisipan yang lain. Sekarang Antologi Cerpen Horor itu telah beredar di toko-toko buku, dan salah satunya telah duduk manis di rak bukuku.

Ini sungguh start point yang manis buat kami. Dan bagiku pribadi, ini adalah awal yang memberiku motivasi besar untuk tak menyia-nyiakan banyak waktu lagi.

Maka dimulailah proses menulis yang ternyata luar biasa menyenangkan. Mulai dari mengumpulkan ide, menamai karakter, menciptakan konflik dan twisting plot, hingga membuat ending kulakukan sembari terus bertukar pendapat dengan temanku. Tidak jarang kami saling memberi kritikan yang kadang membuat panas hati. Tapi kami sadar bahwa kritik itu adalah pecut yang akan membuat kami berlari lebih kencang dan lebih bersemangat.

Aku percaya bahwa impian besar tak bisa diwujudkan sendirian. Oleh karena itu, bersama teman dunia mayaku, kami berlomba untuk menyelesaikan naskah novel untuk dikirimkan ke penerbit. Selama proses menulis naskah itu, kami tetap mengikuti lomba menulis yang di adakan penerbit untuk menambah pengalaman kami dalam dunia kepenulisan. Kami juga aktif mengikuti lomba berhadiah buku yang diadakan penulis untuk saling bersilaturahim dengan sesama penulis. Makin banyak motivasi, makin cepat impian itu bisa terwujud.

Sekarang impian itu telah di depan mata, tinggal berlari sedikit lagi sampai aku benar-benar bisa menggenggamnya dengan kedua tanganku sendiri.

Motivasi dan konsistensi adalah dua hal yang selalu kujaga dalam diriku agar impian itu tidak tertidur kembali sebelum sempat diwujudkan. Selain mendapat motivasi dari teman, aku juga memotivasi diriku sendiri dengan sering membaca pengalaman penulis pemula di internet. Bagiku mereka adalah teman seperjuangan meskipun tidak saling mengenal. Lalu setelah memotivasi diri sendiri, aku akan konsisten berjalan di jalur yang sudah aku pilih. Memilih penulis sebagai karir hidup dan menjadi sukses dengan itu.

Advertisements