Tags

Langit telah menjadi kian mendung saat tubuh rentanya melangkah pelan menuju gubuk reotnya. Disana empat orang bocah dekil menanti dengan perut lapar. Apalah yang bisa diharapkan dari seorang pemulung tua? Umur yang kian beranjak senja tak jua sanggup dilawannya. Tubuhnya mulai melemah seiring rambut yang memutih. Persendian menjadi kaku dan tulangnya mengeropos. Namun hidup memaksanya untuk tetap bertahan meskipun usia senja di pelupuk mata.

Tak pernah sekalipun ia mengeluh, kenapa anak yang dibesarkannya dengan penuh perjuangan tega meninggalkannya bersama empat orang cucunya. Tak pernah pula ia memprotes kenapa istrinya ikut meninggalkannya? Mungkin karena ia sadar akan hidupnya yang malang.

“Maafkan kakek! Hanya ini yang bisa kakek berikan” air matanya menetes.
Sebuah nasi bungkus diberikan pada keempat cucunya. Mereka akhirnya makan dengan lahap sambil berebutan. Tak ada suara keluhan yang terdengar dari keempat bocah itu. Bukan karena mereka bisa memaklumi keadan kakeknya. Namun karena tubuh mereka kian melemah karena kurang gizi. “Ya…Allah….!!!” Desahnya dalam hati.

Malam itu mereka tidur bersama mimpi yang indah. Tuhan tak akan membiarkan hamba-Nya menderita terlalu lama. Oleh karena itu diberikan-Nya kakek itu kebahagiaan, meski hanya dalam mimpi.

Gubuk kardus berukuran 10 meter persegi menjadi saksi betapa beratnya perjuangan kakek melawan hidup yang getir. Ia hidup diantara belantara kota yang tidak peduli pada dirinya. Ia hidup dari sampah yang tak berharga bagi orang lain. Ia hidup dari kemiskinan yang menyengsarakan cucu-cucunya. Bahkan merenggut hampir semua kebahagiannya. Namun ia masih bisa bersyukur. Ia adalah hamba yang taat beribadah, patuh pada setiap perintah Tuhannya. Kemiskinan tak kuasa merenggut kepatuhannya pada Sang Pencipta.

“Ya Allah…jika Engkau memberiku sebuah kemiskinan…maka perkayalah hatiku. Jika Engkau mengambil harta bendaku, janganlah engkau mengambil takwaku. Karena hanya itulah kekayaanku. Dan hanya itulah kekuatanku untuk tetap bertahan ditengah ujian-Mu” doa jikala setiap kali hatinya telah mulai lelah dan merapuh.


Dua buah monster baja berwarna kuning melahap dengan ganas pemukiman kumuh ditepi gunungan sampah TPA. Tangannya yang kuat terangkat ke udara, kemudian dengan cepat turun ke tanah merubuhkan apa saja yang disentuhnya.
Pemulung yang lain hanya bisa melihat dengan pasrah. Beberapa diantara mereka menangis, anaknyapun tak mau kalah. Ikut menjerit-jerit seolah tau apa yang tengah terjadi. Yah, lagi-lagi akan dibangun sebuah pusat perbelanjaan di tempat itu. Dan yang harus menjadi tumbal dari semua itu adalah mereka, orang-orang miskin yang bodoh dan tak tahu apa-apa (setidaknya itu yang orang-orang ‘besar’ katakan tentang orang miskin).

“Stooop!!!! Hentikan!!!! Kalian para anjing pemerintah!!! Busuk!!” sumpah serapah terlontar dari mulut seorang lelaki tua yang datang dengan tergopoh-gopoh.

Alat berat terus saja bekerja seolah tak mendengar makian dari si kakek. Merasa tak digubris, si kakek kemudian mengambil kotoran anjing dan melempar salah satu penggusur. Pemulung yang lain bersorak seolah sedang menyaksikan pertunjukan tinju. Orang itu kemudian turun dari kendaraannya dan menghampiri si kakek.

“Bangsat tua!!!” tubuh kakek terhuyung menerima pukulan dari orang tersebut. Seketika pemulung yang tadinya menyoraki diam. Orang itu kemudian kembali melaksanakan pekerjaannya, meratakan satu gubuk lagi yang masih tersisa.

“Kubilang berhenti!!!! Cucuku masih di dalam!!!” jerit histeris si kakek. Namun kerasnya suara gemuruh membuat orang tersebut tidak mendengarkan teriakan si kakek. Sedetik kemudia gubuk yang dicintainya pun rata dengan tanah.


Sepi. Hening. Diam. Tak ada suara lagi yang terdengar. Hanya raungan kendaraan bermotor yang bersusulan sesekali terdengar dari kejauhan. TPA kini berubah menjadi pemakaman bagi keempat cucu kakek yang meninggal akibat kejatuhan reruntuhan gubuknya sendiri.

Si kakek masih terus menangis, meraung-raung, memaki, berteriak histeris, seolah tak lagi mempedulikan apapun. Teman-temannya sesama pemulung masih berusaha menghibur.

“Pergilah kalian semua!!! Tak usaha ada yang peduli padaku…!! Jangan kasihan terhadapku jika kalian tak kasihan pada cucuku. Kalian tak satupun menolong cucu-cucuku yang sakit. Sementara para anjing-anjing bangsat itu meratakan gubuk kalian. Pergi!!!!”.

Tak ada yang berani bersuara. Mereka tahu betul tabiat si kakek jika sedang marah. Akhirnya semua teman-teman yang tadi mengrumuninya bak lalat pergi menjauh. Merekapun sebenarnya tak tahu harus kemana lagi….

“Ya Allah…..apa arti semua ini???” si kakek bangkit dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Serta merta ia berlari menuju pantai. Disana ia menumpahkan segala yang menjadi kesakitannya.

“Wahai Tuhan yang selama ini kusembah! Engkau dimana???? Tunjukkan keberadaan-Mu! Mengapa Engkau selalu diam saat aku, hamba-Mu terus menerus menderita?!?!? Engkau dimana saat orang-orang yang Engkau beri kelebihan terus menerus menginjak-injakku??? Engkau dimana saat aku menangis??? Katanya Engkau Maha Adil? Mana buktinya ya Allah?? Tak cukup taatkah aku selama ini? Tak cukupkah sujudku ya Allah? Dimana hatimu?? Tunjukkan jika Engkau benar-benar ada!! Jangan Engkau hanya diam menyaksikanku menderita!!! Engkau dimana???” teriakannya meluncur begitu saja. Ia bagaikan orang kesurupan yang tak lagi mengenal apapun. Ia tak lagi sanggup memfungsikan rasionya saat cobaan demi cobaan datang menguji imannya. Ia tak lagi sanggup bertahan dari bisikan setan yang menggerogoti keteguhan dan kesabarannya. Semuanya runtuh bak sebuah tumpukan kardus yang tertiup angin.

Tak lama setelahnya bumi bergetar, bergoyang dan berguncang dahsyat. Hanya sesaat setelah akhirnya tenang kembali. Si kakek terperangah menyadari kata-katanya. Ia kemudian menangis dan bersujud menyesali apa yang baru saja dikatakannya. Namun beberapa menit kemudian gemuruh ombak dari tengah lautan datang menyapu seluruh pantai berikut tubuh si kakek yang renta. Air terus menerus menggulung, menggusur apa saja yang dilaluinya. Melalui TPA, perkotaan, pemukiman kumuh, semuanya.

Tak ada yang tersisa dari sebuah ketidakbecusan. Saat diri kita tak sanggup menahan angin, yang dipersalahkan pastilah yang menciptakannya. Masih pantaskah kita disebut hamba-hamba yang taat?????

Maret 2005

Advertisements