Tags

,

Diikutkan dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’

foto kover

Susu lagi, susu lagi. Mendengarnya saja sudah membuatku mual, apalagi harus meminumnya? Di hadapanku kini ada segelas (atau lebih mirip tabung) susu yang menantang untuk diminum. Setiap pagi mbok Ani selalu menyiapkan setabung susu yang hampir meluber saking penuhnya di sebelah roti bakar untuk sarapanku. Setiap pagi pula aku harus meminum cairan putih kental menjijikkan itu. Aku benci susu, di mataku itu terlihat seperti segelas lumpur. Menjijikkan!

Tak hanya susu yang membuatku benci pada Mbok Ani. Dari tubuhnya selalu tercium aroma minyak gosok. Tubuhnya yang sudah layu itu seperti butuh minyak-minyakan supaya bisa bergerak mulus, seperti mobil tua yang butuh oli untuk onderdilnya. Aku jadi sering membayangkan di makananku ada minyak gosoknya. Karena itu, apapun yang di sodorkan Mbok Ani padaku, aku selalu mengendusnya seperti anjing. Jika tercium aroma minyak gosok, akan kulempar ke tempat sampah. Aku benci baunya!

Hari ini aku kembali berhadapan dengan dua hal yang paling kubenci. Segelas penuh susu dan aroma minyak gosok dari tubuh Mbok Ani. Bayangkan saja bagaimana rasanya aku minum susu menjijikkan dengan aroma minyak gosok yang keluar masuk hidungku. Jika tak ada mama yang mengawasiku, pasti akan langsung kubuang.

“Mbok jauh-jauh deh! Aku gak suka bau minyak gosok!” hardikku saat ia meletakkan sepiring roti bakar.

“Tyas… Jangan gitu. Gak sopan!” tegur mama.

Tambah lagi hal yang membuatku benci pada Mbok Ani. Mama selalu membela nenek tua itu meskipun sudah jelas-jelas membuatku tidak suka. Saat aku memarahi Mbok, mama akan gantian memarahiku. Seolah-olah putri kesayangannya adalah Mbok Ani. Sudah berkali-kali aku minta mama untuk memensiunkan Mbok Ani, tapi mama tak mengabulkannya. Kata mama, Mbok sudah dianggapnya keluarga sendiri. Mbok Ani sudah menjaga rumah ini jauh sebelum aku lahir. Kata mama juga, Mbok Ani lah yang membantu mama saat melahirkanku.

“Mbak Tyas, Mbok tadi nemu ini di kantong baju Mbak. Hampir aja masuk ke mesin cuci.” Mbok Ani menaruh selembar kertas ujian dengan angka memalukan di atas meja. Mama kontan terbelalak, seperti bola matanya akan meloncat keluar.

“Tyas! Nilaimu kenapa seperti itu!?”

“Soal ujiannya susah sekali Mam… Tyas tidak mengerti!” aku memajukan bibirku lalu sesekali melirik sadis ke Mbok Ani. Ia menunduk dalam, sadar dengan ulahnya.

“Kamu terlalu banyak main! Mama akan panggil guru privat. Mulai hari ini, kamu akan belajar di rumah sepulang sekolah!”

“Tapi Mam… hari ini Tyas ada janji dengan Nunu!”

“Batalkan.”

Sorot mata mama membuatku ciut. Kekesalanku kualihkan pada Mbok Ani, kutatap ia dengan benci sembari mendengus beberapa kali. Ia mundur-mundur karena takut, membuatku semakin kesal saja.

“Mama jahat!” kuambil tasku dan segera pergi. Ini adalah kesempatan untuk melewatkan susu menjijikkan buatan Mbok Ani. Hari ini aku sangat benci padanya, aku takkan sudi minum susu buatannya!

“Mbak Tyas, minum susunya dulu…” suara serak Mbok Ani mengikutiku. Aku cuek.

Di luar dugaan, Mbok Ani tidak menyerah. Ia mengikutiku keluar rumah sambil membawa segelas susu. Di mataku ia malah terlihat seperti penyihir tua yang membawa ramuan beracun.

“Aku gak mau minum susu Mbok! Aku benci Mbok! Sana pulang saja!” teriakku sambil berjalan, tak peduli Mbok Ani tergopoh-gopoh di belakangku.

Aku bersungut-sungut. Malu saat orang memandangiku yang dikuntit nenek-nenek tua. Mereka pasti meremehkanku, sudah sebesar ini ke sekolah saja masih diantar pengasuh. Apalagi ia membawa segelas susu di tangannya. Kenapa gak diganti dot aja sekalian!?

Begitu hendak menyeberang, tangan kurus Mbok Ani meraih tasku. Tak kusangka meskipun tubuhnya sudah peyot begitu, jalannya masih cepat juga. Aku tertarik kebelakang, menabrak tubuh Mbok Ani hingga susu yang dipegangnya tumpah ke seragamku. Orang-orang yang tadi melihat kontan tertawa. Bahkan ada yang berteriak ‘kasian!’.

Emosiku memuncak, kuangkat tanganku untuk memukul si tua tak berguna ini. Tubuhnya bergetar ketakutan. Lalu tiba-tiba…

Braaaakk!!!

Dari jalan yang hendak tadi kuseberangi terjadi kecelakaan hebat. Dua kendaraan bertabrakan. Sebuah mobil sedan terselip di bawah truk kontainer berban dua belas. Kondisinya mengerikan. Suasana sangat kacau. Orang-orang yang tadi menertawakanku berlarian menuju TKP, berusaha menolong korban kecelakaan yang entah bagaimana nasibnya.

Aku syok… tanganku masih kaku di udara. Aku tiba-tiba sadar sesuatu. Jika saja Mbok Ani tidak menarik tasku tadi, aku pasti ada di tengah-tengah kerumunan itu. Terbaring di aspal dengan tubuh tak berbentuk. Kutatap kembali wajah Mbok Ani yang ketakutan. Dari matanya yang layu tersirat ucapan ‘tidak apa-apa, Mbak Tyas sudah aman…’. Bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba ia malah menangis.

“Mbok…” aku ikut menangis. Entah, tiba-tiba saja tubuh tua di hadapanku terlihat seperti malaikat.

“Maafkan Tyas Mbok…” kuraih tubuh tuanya yang bergetar lalu masuk kepelukannya. Aku menangis sesenggukan di pelukan malaikat pelindungku. Malaikat yang tiap hari menjagaku meski aku tak pernah menghargainya sedikitpun. Aku baru sadar bahwa orang yang selama ini kutatap dengan sorot mata benci adalah sosok malaikat. Dia yang selalu memberiku kebaikan tanpa peduli sikapku yang buruk. Mbok Ani adalah malaikatku.

Note: Kupersembahkan pada seluruh ART yang telah setia mengabdikan dirinya demi menyediakan segala kebutuhan rumah. Kalian adalah malaikat tersembunyi.

Advertisements